Sabtu, 30 Juni 2012

EKOLOGI PERAIRAN “Dominansi”

EKOLOGI PERAIRAN “Dominansi”


I.  PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Indonesia merupakan kaya akan alam serta manusianya yang memiliki suku yang beraneka ragam serta hewan-hewannya yang begitu banyak dan beragam. Namun demikian ada sebagian manusia atau mahluk hidup lainnya yang memiliki pola pikir atau tingkah laku untuk mendominasi suatu daerah atau perairan tesrebut. Ini disebabkan kebutuhan ekonomi serta timbulnya rasa egoisme terhadap suatu individu tersebut.  Khusus pada daerah perairan yang memiliki makanan yang banyak serta kehidupan yang ekstrim ada suatu jenis spesies yang ingin mengambil secara paksa dari makanan tersebut atau tempat tinggal dengan menggunakan cara-cara yang membuat spesies lainnya menjadi takut dan tidak berani untuk melawan.
Dengan demikian maka dapat menimbulkan ketidakteraturnya kehidupan yang ada di suatu perairan tersebut. Terdapat berbagai perhitungan yang dilakukan untuk melakukan kesimpulan apakah dalam suatu perairan terdapat suatu organisme yang mendominasi suatu perairan tersebut. Perhitungan ini biasa disebut dengan indeks dominansi.
B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu bagaimana cara mengetahui suatu spesies mendominasi suau perairan atau tidak?
C.      Tujuan
Adapun tujuan dari makalah yang dibuat adalah sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui organisme yang dominan dalam suau perairan dengan menggunakan indeks dominansi.
2.        Untuk mengatgaui cara menetralisir suatu organisme yang mendominansi suatu perairan.
D.      Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.        Sebagai bahan renungan bersama akibat timbulnya suatu organisme untuk mendominasi suatu perairan.
2.        Sebagai media untuk mengetahui upaya-upaya yan dilakukan agar organisme tersebut tidak mendominasi suatu perairan lagi





II.         TINJAUAN PUSTAKA
A.      Dominansi
Dominansi merupakan suatu bentuk penguasaan dalam suatu perairan untuk mendapatkan makanan maupun tempat tinggal yang layak serta bertahan cukup lama (Sediadi, 2004).
Untuk mengetahui apakah suatu jenis organisme yang mendominasi suatu perairan dapat menggunakan indeks dominansi (Odum, 1971).
Secara umum rumus dominansi yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:  
                       Jumlah bidang dasar suatu jenis
Dominansi =
       Luas contoh
Dominansi dari suatu jenis
Dominansi relatif/DR (%) =                                                    x 100%
Dominansi seluruh jenis

Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan jenis-jenis yang dominan. Jenis dominan merupakan jenis yang mempunyai nilai penting tertinggi di dalam tipe vegetasi yang bersangkutan (Samingan, 1979).

B.       Indeks Dominansi
Indeks dominansi digunakan untuk memperoleh informasi mengenai jenis ikan yang  mendominasi pada suatu komunitas pada tiap habitat indeks dominansi yang dikemukakan oleh Simpson yaitu (Ludwig dan Reynold, 1988):

          S
C  =  S Pi2
                       i=l

Dengan C = Indeks dominansi Simpson
S = Jumlah jenis (spesies)
ni = jumlah total individu jenis larva i
N = jumlah seluruh individu dalam total n
Pi=ni/N = sebagai proporsi jenis ke-i
Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikandominansi spesies ikan yaitu:
Mendekati 0 = indeks semakin rendah atau dominansi oleh satu spesies ikan.
Mendekati 1 = indeks besar atau cenderung dominansi oleh beberapa spesies ikan (Odum, 1971).
Sedangkan menurut Odum (1994) nilai indeks dominansi berkisar antara 0 – 1 dan jika nilai indeks mendekati atau bernilai 1, maka perairan didominasi oleh spesies tertentu dan sebaliknya. Nilai dominansi phytoplankton 0,334 – 0,356 dan zooplankton 0,156 – 0,500 ini menunjukkan bahwa rata-rata tidak terjadi dominansi spesies.
Indeks keanekaragaman dan dominansi digunakan untuk mengetahui pengaruh kualitas lingkungan terhadap komunitas larva ikan. Pengaruh kualitas lingkungan terhadap kelimpahan ikan selalu berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, karena tiap jenis ikan memiliki adaptasi dan toleransi yang berbeda terhadap habitatnya. Indeks tersebut digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih rinci tentang komunitas ikan (Anwar, 2011).
C.      Beberapa Spesies Biasa Mendominasi suatu Perairan
Menurut Dahuri, dkk. (2008) yang menyatakan bahwa kelompok produser terbesar di perairan pesisir hampir didominasi oleh jenis diatom dan dinoflagellata, disusul oleh jenis mikroflagellata. Miikroflagellata ini merupakan campuran berbagai jasad renik yang tidak jelas taksonominya dan sebelumnya dikelompokkan kedalam phytomastigina atau flagellate tumbuhan. Untuk perairan-perairan pesisir di daerah beriklim kutub dan sedang, kelompok produser ini sering kali didominasi oleh jenis diatom, sedangkan perairan-perairan pesisir didaerah beriklim sub tropic dan tropik didominasi oleh jenis dinoflagellata. Dinoflagellata ini merupakan jasad serba bias. Sebagian besar dinoflagellata tidak hanya berfungsi sebagai ototrof tetapi juga berfunsi sebagai saprotrof dan fototrof fakultatif. Beberapa jenis dinoflagelata menghasilkan racun. Apabila spesies-spesies ini mengalami peledakan populasi maka permukaan laut akan Nampak berwarna merah. Keadaan ini disebut dengan Red tide yang dapat mengakibatkan kematian ikan secara massal.





III.      PEMBAHASAN
Dominansi merupakan suatu perebutan hak yang dilakukan untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal.  Dalam suatu perairan yang biasa mendominasi suatu perairan adalah organisme fitoplankton oleh karena itu biasa terjadi fenomena blooming plankton. Ini akibatkan oleh aktivitas pembuangan dilaut oleh manusia sehingga dengan meningkatnya nutrient maka meningkat pulalah fitoplankton tersebut dengan berkembang biak secara pesat dan tak terkendali.
Contoh yang bias kita lihat pada table berikut :
No.
Hasil Analisis
St. 1
St. 2
St. 3
1.
Jumlah Taksa
8
4
3
2.
Kelimpahan (Ind/m2)
746
168
298
3.
Indeks Diversity (H’)
1,969
1,149
0,868
4.
Indeks Keseragaman (E)
0,947
0,829
0,790
5
Indeks Dominasi (D)
0,156
0,383
0,500
Sumber: Hasil Analisis Laboratorium Perikanan UNPAR Tahun 2003.
Dari analisis diatas maka dapat diketahui bahwa  nilai indeks dominansi berkisar antara 0 – 1 dan jika nilai indeks mendekati atau bernilai 1, maka perairan didominasi oleh spesies tertentu dan sebaliknya. Nilai dominansi phytoplankton 0,156 – 0,500 ini menunjukkan  bahwa rata-rata tidak terjadi dominansi spesies.
Cara mengatasi terjadi dominansi suatu organisme di suau perairan ialah dengan cara melakukan suatu pembersihan terhadap sampah-sampah disuatu perairan serta melakukan aksi cinta perairan sehingga masyarakat akan sadar bahwa apabila disuatu perairan menjadi tempat pembuangan samaph maka akan berdampak kembali pada diri sendirinya.
IV.      PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.        Dalam suatu perairan yang biasa mendominasi suatu perairan adalah organisme fitoplankton oleh karena itu biasa terjadi fenomena blooming plankton. Ini akibatkan oleh aktivitas pembuangan dilaut oleh manusia sehingga dengan meningkatnya nutrient maka meningkat pulalah fitoplankton tersebut dengan berkembang biak secara pesat dan tak terkendali.
2.        Cara mengatasi terjadi dominansi suatu organisme di suau perairan ialah dengan cara melakukan suatu pembersihan terhadap sampah-sampah disuatu perairan serta melakukan aksi cinta perairan sehingga masyarakat akan sadar bahwa apabila disuatu perairan menjadi tempat pembuangan samaph maka akan berdampak kembali pada diri sendirinya.

B.       Saran
Adapun saran yang ingin saya sampaikan pada makalah ini ialah diharapkan pada setiap insan masyarakat untuk menyadari akan pentingnya kehidupan suatu perairan sehingga apabila disentuh atau ganggu maka akn menyebabkan kerancuan yang bisa menyebabkan hilangnya suatu komoditas terhadap suatu perairan ekonomi.



DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Nurmila, 2011. Pedoman inventarisasi flora dan ekosistem. Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam, Bogor.

Dahuri, Rokhmin, Jacub Rais, Sapta Putra Gintung dan Sitepu, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramitha. Jakarta.

Ludwig dan Reynold, 1988. Polychaetes and allies:the Southern synthesis. Fauna of Australia. Polychaeta,  Myzostomida, Pogonophora, Echiura, Sipuncula. Melbourne: CSIRO.

Odum, E.P, 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Sounders Company. Philadelphia.

_________,1994. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Samingan, T. 1979. Beberapa catatan tentang vegetasi di daerah pasang surut Sumatera Selatan. Proceed. SimposiumNasional III Pengembangan daerah pasang surut di Indonesia. Dirjen Pengairan. Departemen Pekerjaan Umum-Institut Pertanian Bogor.

Sediadi, 2004. Keanekaragaman, Pola Penyebaran dan Ciri-ciri Substrat Cacing Laut (Polychaeta) di Perairan Pantai Timur Lampung Selatan. [Thesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.



Jumat, 29 Juni 2012

Studi Potensi dan Penyebaran Tengkawang (Shorea spp.) di Areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing Tarakan, Kalimantan Timur


JURNAL SILVIKULTUR TROPIKA
Vol. 01 No. 01 Desember 2010, Hal. 11 – 17
ISSN: 2086-8227
 
Studi Potensi dan Penyebaran Tengkawang (Shorea spp.) di Areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing Tarakan,
Kalimantan Timur

Potential Studies and Dissemination Tengkawang (Shorea spp.) In the Area IUPHHKHA PT. Manufacturing Intracawood Tarakan, East Kalimantan.

Istomo1 & Tatik Hidayati1
1Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB


ABSTRACT

Tengkawang (Shorea spp.) was one of a growing forest trees in tropical rainforests are known as producer of fruits (illipe nut) and oil tengkawang (borneotallow). Existence tengkawang in diminishing natural habitat caused by illegal logging and exploitation. Decision Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 and PP No.7 of 1999 states that tengkawang producing trees, including protected trees. This study aims to examine the types of tengkawang, assess the potential and the distribution and assess the conditions of growth as habitat tengkawang. The data was collected using the method berpetak line with point sizes 20m x 500m with a total area of 8 ha. The results showed that the group tengkawang found in the study sites Shorea pinanga Scheff., Shorea macrophylla Ashton and Shorea seminis (de Vriese) Slooten. Potential tengkawang by volume per hectare of primary forest and logged-over forests RKT 1986/1987 potentially greater dibandingkang tengkawang in logged-over forest RKT 2006, the spread is generally grouped visits from morisita index value > 1 and tengkawang can grow in tropical rain forests with the type of rainfall rain at the research location is the type A. This type of latosol grown on soil at an altitude up to 500m above sea level, acid pH (4,6-4,9) and CEC pretty good (16,25-19,40).

Keywords:  Tengkawang (Shorea spp.), Distribution, Potention, IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufactuirng


 




PENDAHULUAN
Tengkawang (Shorea spp.) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropika. Keberadaan tengkawang di habitat alaminya saat ini mulai berkurang dan sulit ditemukan. Kegunaan tengkawang sebagai salah satu jenis kayu primadona hutan tropika mulai sulit dicari di pasaran, eksploitasi terhadap jenis ini sangat besar sejalan dengan kebutuhan kayu yang meningkat.  Kayu tengkawang terutama dipakai untuk venir dan kayu lapis, disamping itu dapat juga dipakai untuk bangunan perumahan, kayu perkapalan, alat musik, mebel atau peti pengepak.
Tengkawang tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan B. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 m dari permukaan laut. Sebagai salah satu IUPHHK-HA dimana areal kerjanya tergolong ke dalam hutan hujan tropika, PT. Intracawood Manufacturing memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Keanekaragaman hayati tersebut terlihat pada keanekaragaman jenis tumbuhan pada hutan hujan tropika. Di IUPHHK-HA ini, tengkawang merupakan jenis tumbuhan famili Dipterocarpaceae yang dipertahankan (tidak ditebang) karena pohon tengkawang termasuk pohon yang dilindungi menurut PP no. 7 tahun 1999 karena tengkawang merupakan penghasil buah tengkawang sebagai bahan kosmetik, obat-obatan dan sumber makanan bernilai tinggi bagi masyarakat sekitar hutan.
Penelitian mengenai studi potensi dan penyebaran tengkawang (Shorea spp.) yang dilaksanakan di areal PT. Intracawood Manufacturing, Kalimantan Timur ini bertujuan :
1.       Mengkaji keanekaragaman jenis pohon tengkawang
2.       Mengkaji potensi dan penyebaran pohon tengkawang
3.       Mengkaji kondisi tempat tumbuh sebagai habitat tengkawang di areal PT. Intracawood Manufacturing
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah mengetahui potensi dan penyebaran tengkawang (Shorea spp.) yang berguna dalam usaha pelestarian salah satu tumbuhan yang dilindungi di areal PT. Intracawood Manufacturing, Kalimantan Timur.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian studi potensi dan penyebaran tengkawang (Shorea spp.) dilakukan pada bulan April – Juni 2009 dan berlokasi di areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing, Tarakan, Kalimantan Timur.
Bahan dan Alat Penelitian. Alat yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini antara lain pita meter, phiband, kompas, tabung film, Clinometer, Hygrometer, Hagameter, Global Position System (GPS), Altimeter, patok, gunting, pH meter, kantong plastik, golok, kertas koran, label, kalkulator, penggaris, tally sheet, dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain vegetasi, sample tanah, dan alkohol 70 %.
Pelaksanaan Penelitian. Penelitian dilakukan dengan teknik pengambilan contoh dengan menggunakan metode jalur berpetak. Jalur tersebut dibuat berukuran 20 m x 500 m. Plot yang dibuat berjumlah 8 plot masing-masing 2 (dua) plot di hutan primer (seluas 2 ha), 3 (tiga) plot di areal bekas tebangan muda seluas 3 ha dan 3 (tiga) plot di areal tebangan tua seluas 3 ha. Jadi, analisis vegetasi dilakukan 8 plot dengan total luasan 8 ha. Data jenis tumbuhan lain dikumpulkan dengan melakukan analisis vegetasi pada petak-petak pengamatan tersebut. Adapun gambaran plot pengamatan tengkawang (Shorea spp.) sebagai berikut:

 



              
20 Meter                                        
                               
        a                                                        Arah Rintis                                                    

             b
                  c
                          d                      

                                                             
                 20 meter

Gambar 1 Bagan jalur dan petak pengamata

Keterangan:
         a = Petak pengamatan ukuran 2 m x 2 m (tingkat semai)
         b = Petak pengamatan ukuran 5 m x 5 m (tingkat pancang)
         c = Petak pengamatan ukuran 10 m x 10 m (tingkat tiang)
         d = Petak pengamatan ukuran 20 m x 20 m (tingkat pohon).

Data fisik lingkungan yang diukur meliputi:
1.     Suhu dan kelembaban udara, pengukuran dilakukan dengan menggunakan Hygrometer
2.     Topografi, pengukuran kemiringan tanah dengan menggunakan Clinometer dan pengukuran ketinggian tempat menggunakan Global Position System (GPS)
3.     Kondisi tanah, untuk mengetahui jenis tanah, tekstur, pH dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dilakukan pengambilan contoh tanah secara komposit dari 3 tempat dicampur dengan kedalaman 0-20 cm.
Analisis Data. Data pengamatan yang telah diperoleh diolah dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut:
1.     Kerapatan (K) =   Jumlah individu suatu jenis
                                         Luas petak contoh
2.     Frekuensi (F) =  Jumlah petak ditemukan suatu jenis
                                           Jumlah seluruh petak
3.     Dominasi (D) =  Jumlah bidang dasar suatu jenis       
                                             Luas petak contoh
4.     Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan suatu jenis  x 100 %
                                             Kerapatan seluruh jenis
5.     Frekuensi Relatif (FR) = Frekuensi suatu jenis    x 100 %
                                             Frekuensi seluruh jenis
6.     Dominasi Relatif (DR) = Dominasi suatu jenis    x 100 %
                                           Dominasi seluruh jenis
7.     INP = KR + FR + DR (untuk tingkat tiang dan pohon)
      INP = KR + FR (untuk tingkat semai dan pancang)
8.     Indeks Keanekaragaman Jenis
Ã¥
 
            s
H’  =         [(ni/N) 1n(ni/N)]
          i=1

Dimana :  H’ = Indeks keanekaragaman jenis                                          S  = Jumlah jenis
 ni = Nilai penting tiap jenis
                                 N  = Total nilai penting
9.     Indeks Kemerataan
               E =    H’                                                 
                                              Ln (S) 
                Dimana :   E = Indeks kemerataan
                                H’= Indeks keanekaragaman   
                                S  = Jumlah jenis
10.                          Indeks Morisita

Id = q x ∑ {xi (xi-1)}
                    T (T-1)
               Dimana:                   Id   = Indeks Morisita
                q    = Jumlah petak
                               xi   = Jumlah individu pada petak ke-i    
                                             (i = 1,2,3….dst)
                T   = Total individu pada petak


HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan. Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada 3 (tiga) kondisi hutan yang berbeda dengan luas total 8 ha di areal PT. Intracawood Manufacturing, diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 1.    Jumlah jenis yang ditemukan pada plot pengamatan
Tingkat Pertumbuhan
Hutan Primer
LOA RKT 2006
LOA RKT 1986/1987
TK
Non-  TK
TK
Non- TK
TK
Non- TK
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
3
1
2
3
19
13
19
38
3
2
1
2
13
19
22
33
3
3
2
3
25
38
19
42
Keterangan:
LOA        = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT         = Rencana Kerja Tahunan
TK           = Tengkawang
Non-TK   = Non-Tengkawang

Di hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 memiliki jumlah jenis lebih banyak dibandingkan dengan hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan primer. Hal ini dapat terjadi karena pada kondisi hutan tersebut telah mengalami permudaan dan pemulihan hutan kembali selama 22 tahun. Rendahnya komposisi jenis pada hutan bekas tebangan RKT 2006 terjadi akibat penebangan yang dilakukan pada tahun 2006 sehingga hutan tersebut belum mengalami pemulihan, sedangkan di hutan primer terjadi akibat kondisi hutan yang belum mengalami gangguan sehingga vegetasinya masih vegetasi asli dan banyak jenis-jenis non-komersil.
Keanekaragaman jenis adalah parameter yang ber-guna untuk membandingkan dua komunitas atau lebih, terutama untuk mengetahui pengaruhnya dari gangguan abiotik atau untuk mengetahui tingkat suksesi atau kestabilan dari suatu jenis. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis pada masing-masing tingkat pertumbuhan di 3 (tiga) lokasi penelitian (Tabel 2).

Tabel 2. Indeks keanekaragaman jenis (H’) dan indeks kemerataan jenis(E)
Tingkat Pertumbuhan
Hutan Primer
LOA RKT 2006
LOA RKT 1986/1987
H’
E
H’
E
H’
E
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
1,17
1,02
1,16
1,34
0,43
0,39
0,38
0,37
0,95
1,11
1,06
1,25
0,34
0,37
0,34
0,35
1,28
1,52
1,06
1,32
0,39
0,41
0,35
0,35
Keterangan:
LOA        = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT         = Rencana Kerja Tahunan

Nilai H’ pada tiga lokasi penelitian memiliki nilai dengan kisaran 0,95 – 1,52 untuk semua tingkat pertumbuhan. Nilai indeks keanekaragaman jenis pada umumnya berada pada kisaran 1,0 sampai 3,5. Jika nilai H’ kurang dari 2 maka termasuk kategori keanekaragaman jenis tergolong cukup. Nilai E tertinggi pada tingkat pertumbuhan tertentu tersebut nilainya tidak berbeda jauh dengan tingkat pertumbuhan lainnya. Semakin besar nilai E (mendekati 1), maka semakin merata individu jenis tersebar dalam jenis yang ada. Untuk mengetahui jenis – jenis yang dominan di lokasi penelitian   berikut dengan 3 jenis yang memiliki INP tertinggi pada 3 (tiga) kondisi hutan yang berbeda (Tabel 3).
Berdasarkan hasil pengukuran diameter pohon dan tinggi pohon, diketahui struktur tegakan berdasarkan kerapatan per hektar di hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 (Gambar 2 dan Gambar 3).


Tabel 3.    Jenis pohon dominan pada hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 di PT. Intracawood Manufacturing
Tingkat Pertumbuhan
Hutan Primer
Hutan Bekas Tebangan RKT 2006
Hutan Bekas Tebangan RKT 1986/1987
Nama Jenis
INP (%)
Nama Jenis
INP (%)
Nama Jenis
INP (%)
Semai



Pancang



Tiang



Pohon
Scaphium affinis
S.  macrophylla*
Dacryodes costata

Knema laurina
H. mangarawan
Dacryodes costata

D. cornutus
Knema laurina
S. pinanga*

D.  cornutus
S. leprosula
S. assamica
39,83
28,13
17,91

46,55
34,75
22,56

66,63
39,75
21,44

43,32
29,21
26,42
Scaphium affinis
Pternandra glaeata
S. leprosula

Dacryodes  costata
Eugenia  jambos
Pternandra glaeata

D. cornutus
S. assamica
S. pinanga*

D. cornutus
S. assamica
S. pinanga*
72,47
24,12
17,74

38,89
30,19
27,14

90,84
65,99
16,60

58,29
51,03
23,77
S. leprosula
H. mangarawan
D. cornutus

Eugenia jambos
S. leprosula
Macaranga gigantea

D. cornutus
Eugenia jambos
S. assamica

D.cornutus
S. assamica
S. pinanga*
22,41
20,16
17,24

22,90
12,89
11,59

84,61
41,79
38,28

46,42
34,18
33,70
Keterangan:
INP          = Indeks Nilai Penting
*              = Kelompok tengkawang




                                                                                                                                       

































  


 Gambar 2.  Struktur tegakan berdasarkan kerapatan/ha




 





















Gambar 3.  Struktur tegakan berdasarkan volume/ha


Dari total kerapatan dan volume per hektar, di hutan primer memiliki total kerapatan dan volume tertinggi dengan nilai masing-masing 545,50 ind/ha dan 1234,39 m3. Hal ini dikarenakan di hutan primer ini belum terjadi gangguan dari manusia atau proses penebangan di kawasan IUPHHK-HA PT. Intracawood Mfg ini. Sedangkan lokasi yang memiliki total kerapatan terendah adalah di hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 sebesar 476,35 ind/ha dan total volume terendah  di hutan bekas tebangan RKT 2006 sebesar 803,49 m3. Hal ini dikarenakan di kedua lokasi ini merupakan Log Over Area (LOA) atau hutan yang telah mengalami gangguan akibat proses penebangan dan di dalam proses penebangan tersebut baik dari proses perencanaan di lapangan hingga pemanenan akan banyak mengurangi jumlah individu tiap jenis dan tidak hanya pohon, tingkat pertumbuhan lainnya khususnya anakan di hutan tersebut menjadi berkurang.
Penyebaran tengkawang (Shorea spp.). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, jenis kelompok tengkawang yang ditemukan antara lain tengkawang rambai (Shorea pinanga Scheff.), tengkawang buah (Shorea macrophylla Ashton) maupun tengkawang ayer (Shorea seminis (de Vriese) Slooten). Penyebaran pohon tengkawang (Shorea spp.) dapat diketahui berdasarkan nilai Indeks Morisita ( (Tabel 4).


Tabel 4.    Indeks Morisita (Id) pohon tengkawang (Shorea spp.) pada hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987
Lokasi
Indeks Morisita
S. pinanga
S. macrophylla
S. seminis
Id
Id
Id
Hutan Primer
1,14
1,79
1,39
LOA RKT 1986/1987
1,01
2,08
3,57
LOA RKT 2006
1,51
5,00
-
Keterangan:
LOA        = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT         = Rencana Kerja Tahunan

Penyebaran 3 jenis tengkawang yang ditemukan pada umumnya mengelompok dilihat dari nilai indeks morisita yang bernilai > 1. Kondisi iklim dan faktor ketersediaan hara atau nutrisi merupakan faktor lingkungan yang sangat berperan dalam penyebaran. Apabila di sekitar lokasi induk jenis tumbuhan menyediakan hara yang cukup untuk pertumbuhan, maka akan cenderung membentuk pola penyebaran yang mengelompok. Pada umumnya pola yang terjadi di hutan primer adalah mengelompok, seperti penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi (1998) untuk jenis pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) pada hutan primer di HPH PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat. Penelitian lainnya untuk jenis palahlar gunung (Dipterocarpus retusus BI) di hutan lindung Gunung Cakrabuana Jawa Barat oleh Pradiastoro (2004), pola penyebaran jenis di lokasi penelitian tersebut juga mengelompok.
Potensi dan Tempat Tumbuh Tengkawang (Shorea spp.). Di hutan hujan tropis Indonesia telah banyak dikenal ratusan jenis rotan, jenis pohon tengkawang, jenis anggrek hutan dan beberapa jenis umbi-umbian sebagai sumber makanan dan obat-obatan (Indriyanto 2005). Dari hasil analisis yang telah dilakukan, kerapatan dan volume tengkawang (Tabel 5).  
Berdasarkan penelitian Heriyanto dan Mindawati (2008) di kelompok hutan Sungai Jelai, Sungai Delang dan Sungai Seruyan Hulu Kalimantan Barat, ditemukan 2 jenis tengkawang yaitu Shorea pinanga Scheff. dan Shorea Stenoptera Burck. Forma. Sebaran jenis penghasil tengkawang berdasarkan kelas diameter antara 20 cm sampai 29 cm kerapatannya sebanyak 28,25 individu/ha (volume 9,81 m3/ha), kelas diameter 30 cm sampai 39 cm kerapatannya 1,50 individu/ha (volume 1,29 m3/ha), kelas diameter 40 cm samapai 49 cm kerapatannya 1,30 individu/ha (volume 2,02 m3/ha) dan kerapatan pohon yang berdiameter di atas 50 cm sebanyak 0,30 individu/ha (volume 0,80 m3/ha).


Tabel 5.  Jenis dan kerapatan tengkawang (ind/ha)
Tingkat Pertumbuhan
Hutan Primer
LOA RKT 2006
LOA RKT 1986/1987
Jenis
K/ha
Jenis
K/ha
Jenis
K/ha
Semai
S. pinanga
125,00
S. pinanga
16,67
S. pinanga
83,33

S. Seminis
65,00
S. Seminis
6,67
S. Seminis
50,00

S. macrophylla
105,00
S. macrophylla
3,33
S. macrophylla
43,33
Total

295,00

26,67

176,67
Pancang
S. pinanga
22,50
S. pinanga
23,67
S. pinanga
6,67



S. macrophylla
3,67
S. Seminis
5,67





S. macrophylla
4,33
Total

22,50

27,33

16,67
Tiang
S. pinanga
35,00
S. pinanga
16,67
S. pinanga
3,33

S. macrophylla
25,00


S. macrophylla
16,67
Total

60,00

16,67

20,00
Pohon
S. pinanga
10,50
S. pinanga
10,67
S. pinanga
15,33

S. seminis
4,50
S. macrophylla
2,00
S. seminis
2,33

S. macrophylla
4,00


S. macrophylla
3,00
Total

19,00

12,67

20,67
Keterangan:
LOA        = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT         = Rencana Kerja Tahunan
K             = Kerapatan Jenis
Ind           = Individu
Ha            = Hektar

Tabel 6.  Volume  pohon tengkawang (Shorea spp.) di tiap kondisi hutan
Tingkat Pertumbuhan
Hutan Primer
LOA RKT 2006
LOA RKT 1986/1987
Jenis
Vol/ha
Jenis
Vol/ha
Jenis
Vol/ha
Tiang
S. pinanga
16,77
S. pinanga
13,48
S.  pinanga
2,61

S. macrophylla
10,18


S. macrophylla
14,31
Total

26,95

13,48

16,92
Pohon
S.  pinanga
155,35
S. pinanga
153,16
S. pinanga
287,00

S. Seminis
48,96
S. macrophylla
10,65
S. Seminis
11,58

S. macrophylla
14,29


S. macrophylla
59,30
Total

218,60

163,81

357,88
Keterangan:
LOA        = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT         = Rencana Kerja Tahunan
Vol          = Volume (m3)


Pohon tengkawang yang mendominasi adalah tengkawang rambai. Dibandingkan jenis lainnya seperti tengkawang buah dan tengkawang ayer. Pohon tengkawang rambai yang mendominasi pada masing-masing hutan tersebut merupakan jenis yang paling tinggi kesesuiannya dengan tempat tumbuh dibandingkan dengan jenis tengkawang lainnya.
Pohon tengkawang (Shorea spp.) di areal PT. Intracawood Manufacturing berada dalam status pohon yang dilindungi. Namun keberadaan pohon tengkawang tersebut belum diperhatikan dengan baik. Saat ini ada 36 jenis flora di areal PT. Intracawood Manufacturing yang telah dikategorikan langka dan dilindungi (IWM 2007).
Berdasarkan hasil pengukuran diameter pohon jenis tengkawang dan non-tengkawang, diameter kelompok pohon tengkawang berkisar 20 cm  – 97 cm. Sedangkan untuk kelompok pohon non-tengkawang berkisar antara 20 cm – 125 cm.


Tabel 7.  Jumlah dan volume per hektar di hutan primer
Kelas Diameter (cm)
Tengkawang
Non-Tengkawang
N
V/ha
N
V/ha
10 – 19
21,50
109,30
348,50
596,12
20 – 29
5,50
4,42
63,00
40,06
30 – 39
4,00
6,14
30,00
39,83
40 – 49
4,50
13,28
24,50
58,46
50 – 59
2,50
11,39
7,50
28,21
60 – 69
-
-
12,50
74,23
70 – 79
1,50
12,56
11,00
87,27
80 – 89
1,00
14,89
2,00
28,00
90 – 99
-
-
5,00
75,04
100 up
-
-
1,00
35,19
Total
40,5
171,98
505,00
1062,41

Tabel 8.  Jumlah dan volume per hektar di hutan bekas tebangan RKT 2006
Kelas Diameter (cm)
Tengkawang
Non-Tengkawang
N
V/ha
N
V/ha
10 – 19
10,00
51,05
326,67
396,89
20 – 29
4,67
3,37
72,67
52,53
30 – 39
3,67
6,68
44,00
66,01
40 – 49
1,00
2,98
14,00
37,90
50 – 59
-
-
4,33
20,25
60 – 69
0,33
2,69
5,00
30,79
70 – 79
0,67
5,84
2,67
20,05
80 – 89
1,67
21,06
4,33
51,98
90 – 99
0,33
4,85
0,67
9,83
100 up
-
-
0,67
18,26
Total
22,34
98,52
475,01
704,49
Keterangan:
V             = Volume (m3) per hektar
N             = Kerapatan (ind/ha)

Tabel 9. Jumlah dan volume per hektar di hutan bekas tebangan RKT 1986/1987
Kelas Diameter (cm)
Tengkawang
Non-Tengkawang
N
V/ha
N
V/ha
10 – 19
20,67
119,29
289,33
530,31
20 – 29
3,33
2,55
63,00
46,89
30 – 39
3,33
4,89
36,67
51,98
40 – 49
4,67
14,25
22,67
61,39
50 – 59
1,67
7,07
8,33
36,12
60 – 69
3,67
23,09
5,00
31,60
70 – 79
2,33
20,76
4,67
37,28
80 – 89
0,67
8,79
3,33
38,38
90 – 99
0,67
10,74
1,67
24,42
100 up
-
-
0,67
16,12
Total
41,01
211,43
435,34
874,49
Keterangan:
V             = Volume (m3)
N             = Kerapatan


Berdasarkan nilai total kerapatan dan volume tengkawang per hektar pada hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987, jumlah dan volume kelompok tengkawang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok non-tengkawang. Dilihat dari total persentase total kerapatan dan volumenya, di hutan primer (8,02% dan 16,19%) dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 (9,42% dan 24,18%) memiliki jumlah persentase yang lebih besar dibandingkan di hutan bekas tebangan RKT 2006 (4,70% dan 13,98%) karena dengan adanya proses penebangan yang baru saja dilakukan pada tahun 2006 tersebut maka akan mengurangi jumlah permudaan, anakan bahkan pohon-pohon di sekitar lokasi penebangan.
Untuk mengetahui kesesuaian tempat tumbuh dengan suatu jenis tumbuhan, maka diperlukan data fisik lingkungan di lokasi penelitian tersebut. Suhu udara pada hutan primer dan hutan bekas tebangan rata-rata berkisar antara 21 – 22,5 °C. Kemiringan tanah di kondisi hutan primer dan hutan bekas tebangan RKT 2006 berkisar antara 0 – 80 % sehingga termasuk kedalam kriteria datar hingga sangat curam sedangkan pada lokasi penelitian di kondisi  hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 kemiringan tanahnya termasuk kriteria datar hingga curam yaitu berkisar antara 0 – 36 %. Sedangkan ketinggian tempat sebagai habitat tengkawang, tengkawang dapat tumbuh hingga ketinggian 500 m dpl. Menurut Martawijaya et al (1981), tengkawang tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan B. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 m dari permukaan laut .
Kondisi tanah pada areal penelitian bersifat masam (4,5 – 5,5) dilihat dari nilai pH pada hutan primer sebesar 4,6 dan hutan bekas tebangan sebesar 4,9. Sedangkan kapasitas tukar kation (KTK) cukup tinggi sehingga dapat memenuhi penyediaan hara dalam tanah tersebut. Jadi dalam kondisi tanah masam, pohon tengkawang dapat tumbuh dengan baik karena penyediaan haranya masih cukup.

KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing, kesimpulan yang dapat diambil antara lain:
1.       Jenis-jenis tengkawang yang ditemukan di areal penelitian antara lain yaitu tengkawang rambai (Shorea pinanga Sceff.), tengkawang buah (Shorea macrophylla Ashton), dan tengkawang ayer (Shorea seminis (de Vriese) Slooten)
2.       Potensi tengkawang berdasarkan volume pohon per hektar, di hutan primer dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 berpotensi lebih besar dibandingkan dengan tengkawang di hutan bekas tebangan di hutan bekas tebangan RKT 2006
3.       Penyebaran 3 jenis tengkawang yang ditemukan pada umumnya mengelompok dilihat dari nilai indeks morisita yang bernilai > 1
4.       Tengkawang dapat tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan di lokasi penelitian adalah tipe A. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol pada ketinggian sampai 500 m dari permukaan laut, pH asam (4,6 – 4,9) dan KTK cukup baik (16,25 – 19,40).


DAFTAR PUSTAKA
[IWM] PT. Intracwood Manufacturing. 2007. Rencana kerja usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam pada hutan produksi periode 2008 s/d 2017. Bulungan dan Malinau : PT. Intracawood Manufacturing.
Heriyanto dan Mindawati.  2008. Konservasi jenis tengkawang (Shorea spp.) pada kelompok hutan Sungai Jelai-Sungai delang-Sungai Seruyam hulu di Propinsi Kalimantan Barat. Info Hutan   5 (3): 281-287.
Indriyanto.  2005. Ekologi hutan. Bandar Lampung: PT. Bumi Aksara.
Martawijaya A et al. 1981. Atlas kayu Indonesia  (jilid I). Bogor: Balitbang.
Pradiastoro A. 2004. Kajian tempat tumbuh alami Palahlar Gunung (Dipterocarpus retusus BI) di kawasan hutan lindung Gunung Cakrabuana Kabupaten Sumedang Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Soerianegara I dan Lemmens RHMJ. 1994. Plant Resources of South-East Asia No. 5 (1). Bogor - Indonesia.
Supriyadi L. 1998. Studi potensi pasak bumi (Eurycoma latifolia Jack.) dan kemungkinan pemanfaatannya di areal kerja PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.