JURNAL SILVIKULTUR TROPIKA
Vol. 01 No. 01 Desember 2010, Hal. 11 – 17
ISSN: 2086-8227
|
|
Studi Potensi dan Penyebaran Tengkawang (Shorea spp.) di Areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing Tarakan,
Kalimantan Timur
Potential
Studies and Dissemination Tengkawang (Shorea spp.) In the Area IUPHHKHA PT.
Manufacturing Intracawood Tarakan, East Kalimantan.
Istomo1 & Tatik Hidayati1
1Departemen Silvikultur Fakultas
Kehutanan IPB
ABSTRACT
Tengkawang (Shorea spp.) was one of
a growing forest trees in tropical rainforests are known as producer of fruits
(illipe nut) and oil tengkawang (borneotallow). Existence tengkawang in diminishing
natural habitat caused by illegal logging and exploitation. Decision Mentan
No. 54/Kpts/Um/2/1972 and PP No.7 of 1999 states that tengkawang producing
trees, including protected trees. This study aims to examine the types of
tengkawang, assess the potential and the distribution and assess the conditions
of growth as habitat tengkawang. The data was collected using the method
berpetak line with point sizes 20m x 500m with a total area of 8 ha. The results showed that the group tengkawang found in
the study sites Shorea
pinanga Scheff., Shorea macrophylla Ashton and Shorea seminis (de Vriese) Slooten. Potential tengkawang
by volume per hectare of primary forest and logged-over forests RKT 1986/1987
potentially greater dibandingkang tengkawang in logged-over forest RKT 2006,
the spread is generally grouped visits from morisita index value > 1 and
tengkawang can grow in tropical rain forests with the type of rainfall rain at the
research location is the type A. This type of latosol grown on soil at an
altitude up to 500m above sea level, acid pH (4,6-4,9) and CEC pretty good
(16,25-19,40).
Keywords: Tengkawang
(Shorea spp.), Distribution, Potention, IUPHHK-HA
PT. Intracawood Manufactuirng
PENDAHULUAN
Tengkawang (Shorea spp.) merupakan salah satu jenis
tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropika. Keberadaan tengkawang di
habitat alaminya saat ini mulai berkurang dan sulit ditemukan. Kegunaan
tengkawang sebagai salah satu jenis kayu primadona hutan tropika mulai sulit
dicari di pasaran, eksploitasi terhadap jenis ini sangat besar sejalan dengan
kebutuhan kayu yang meningkat. Kayu
tengkawang terutama dipakai untuk venir dan kayu lapis, disamping itu dapat
juga dipakai untuk bangunan perumahan, kayu perkapalan, alat musik, mebel atau
peti pengepak.
Tengkawang tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan
B. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah kuning dan podsolik
kuning pada ketinggian sampai 1300 m dari permukaan laut. Sebagai salah satu
IUPHHK-HA dimana areal kerjanya tergolong ke dalam hutan hujan tropika, PT.
Intracawood Manufacturing memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.
Keanekaragaman hayati tersebut terlihat pada keanekaragaman jenis tumbuhan pada
hutan hujan tropika. Di IUPHHK-HA ini, tengkawang merupakan jenis tumbuhan
famili Dipterocarpaceae yang dipertahankan (tidak ditebang) karena pohon
tengkawang termasuk pohon yang dilindungi menurut PP no. 7 tahun 1999 karena
tengkawang merupakan penghasil buah tengkawang sebagai bahan kosmetik,
obat-obatan dan sumber makanan bernilai tinggi bagi masyarakat sekitar hutan.
Penelitian mengenai studi potensi dan penyebaran
tengkawang (Shorea spp.) yang dilaksanakan di areal PT. Intracawood
Manufacturing, Kalimantan Timur ini bertujuan :
1.
Mengkaji
keanekaragaman jenis pohon tengkawang
2.
Mengkaji potensi
dan penyebaran pohon tengkawang
3.
Mengkaji
kondisi tempat tumbuh sebagai habitat tengkawang di areal PT. Intracawood
Manufacturing
Manfaat yang diperoleh dalam
penelitian ini adalah mengetahui potensi dan penyebaran tengkawang (Shorea spp.) yang berguna dalam usaha
pelestarian salah satu tumbuhan yang dilindungi di areal PT. Intracawood
Manufacturing, Kalimantan Timur.
BAHAN
DAN METODE
Waktu
dan Tempat Penelitian. Penelitian studi potensi dan penyebaran tengkawang (Shorea spp.) dilakukan pada bulan April
– Juni 2009 dan berlokasi di areal IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing,
Tarakan, Kalimantan Timur.
Bahan dan Alat
Penelitian. Alat yang digunakan
dalam pelaksanaan penelitian ini antara lain pita meter, phiband, kompas, tabung film, Clinometer,
Hygrometer, Hagameter, Global Position
System (GPS), Altimeter, patok, gunting, pH meter, kantong plastik, golok,
kertas koran, label, kalkulator, penggaris, tally
sheet, dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain vegetasi,
sample tanah, dan alkohol 70 %.
Pelaksanaan
Penelitian. Penelitian dilakukan dengan teknik pengambilan contoh dengan menggunakan
metode jalur berpetak. Jalur tersebut
dibuat berukuran 20 m x 500 m. Plot yang dibuat berjumlah 8 plot masing-masing
2 (dua) plot di hutan primer (seluas 2 ha), 3 (tiga) plot di areal bekas
tebangan muda seluas 3 ha dan 3 (tiga) plot di areal tebangan tua seluas 3 ha.
Jadi, analisis vegetasi dilakukan 8 plot dengan total luasan 8 ha. Data jenis tumbuhan lain dikumpulkan dengan melakukan analisis vegetasi
pada petak-petak pengamatan tersebut. Adapun gambaran plot pengamatan
tengkawang (Shorea spp.) sebagai
berikut:
20 Meter
a
Arah Rintis
b
c
d
20 meter
Gambar 1 Bagan jalur dan petak pengamata
Keterangan:
a = Petak pengamatan ukuran 2 m x 2 m (tingkat semai)
b = Petak pengamatan ukuran
5 m x 5 m (tingkat pancang)
c = Petak pengamatan ukuran
10 m x 10 m (tingkat tiang)
d = Petak pengamatan ukuran
20 m x 20 m (tingkat pohon).
Data fisik lingkungan yang diukur meliputi:
1. Suhu dan kelembaban udara,
pengukuran dilakukan dengan menggunakan Hygrometer
2. Topografi, pengukuran kemiringan tanah dengan menggunakan Clinometer dan pengukuran ketinggian
tempat menggunakan Global Position System
(GPS)
3. Kondisi tanah, untuk mengetahui jenis tanah, tekstur, pH dan Kapasitas
Tukar Kation (KTK) dilakukan pengambilan contoh tanah secara komposit dari 3
tempat dicampur dengan kedalaman 0-20 cm.
Analisis Data. Data
pengamatan yang telah diperoleh diolah dengan menggunakan rumus-rumus sebagai
berikut:
1.
Kerapatan (K) = Jumlah individu suatu jenis
Luas petak contoh
2.
Frekuensi
(F) = Jumlah petak ditemukan suatu
jenis
Jumlah seluruh petak
3.
Dominasi
(D) = Jumlah bidang dasar suatu jenis
Luas petak
contoh
4.
Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan
suatu jenis x 100 %
Kerapatan seluruh jenis
5.
Frekuensi
Relatif (FR) = Frekuensi suatu jenis x 100 %
Frekuensi seluruh jenis
6.
Dominasi
Relatif (DR) = Dominasi suatu
jenis x 100 %
Dominasi seluruh jenis
7.
INP
= KR + FR + DR (untuk tingkat tiang dan pohon)
INP
= KR + FR (untuk tingkat semai dan pancang)
8.
Indeks
Keanekaragaman Jenis
s
H’
= –
[(ni/N) 1n(ni/N)]
i=1
Dimana : H’ = Indeks
keanekaragaman jenis S = Jumlah jenis
ni = Nilai penting tiap jenis
N = Total nilai penting
9.
Indeks
Kemerataan
E = H’
Ln (S)
Dimana : E = Indeks kemerataan
H’=
Indeks keanekaragaman
S = Jumlah jenis
10.
Indeks Morisita
Id = q x ∑ {xi (xi-1)}
T (T-1)
Dimana: Id = Indeks Morisita
q = Jumlah petak
xi = Jumlah individu
pada petak ke-i
(i =
1,2,3….dst)
T = Total individu
pada petak
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Komposisi
Jenis dan Struktur Tegakan. Berdasarkan
hasil analisis vegetasi pada 3 (tiga) kondisi hutan yang berbeda dengan luas
total 8 ha di areal PT. Intracawood Manufacturing, diperoleh hasil sebagai
berikut.
Tabel 1. Jumlah jenis
yang ditemukan pada plot pengamatan
|
Tingkat Pertumbuhan
|
Hutan Primer
|
LOA RKT 2006
|
LOA RKT 1986/1987
|
|
TK
|
Non- TK
|
TK
|
Non- TK
|
TK
|
Non- TK
|
|
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
|
3
1
2
3
|
19
13
19
38
|
3
2
1
2
|
13
19
22
33
|
3
3
2
3
|
25
38
19
42
|
Keterangan:
LOA = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT =
Rencana Kerja Tahunan
TK =
Tengkawang
Non-TK =
Non-Tengkawang
Di hutan
bekas tebangan RKT 1986/1987 memiliki jumlah jenis lebih banyak dibandingkan
dengan hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan primer. Hal ini dapat terjadi
karena pada kondisi hutan tersebut telah mengalami permudaan dan pemulihan
hutan kembali selama 22 tahun. Rendahnya komposisi jenis pada hutan bekas
tebangan RKT 2006 terjadi akibat penebangan yang dilakukan pada tahun 2006
sehingga hutan tersebut belum mengalami pemulihan, sedangkan di hutan primer
terjadi akibat kondisi hutan yang belum mengalami gangguan sehingga vegetasinya
masih vegetasi asli dan banyak jenis-jenis non-komersil.
Keanekaragaman
jenis adalah parameter yang ber-guna untuk membandingkan dua komunitas atau
lebih, terutama untuk mengetahui pengaruhnya dari gangguan abiotik atau untuk
mengetahui tingkat suksesi atau kestabilan dari suatu jenis. Hasil perhitungan
indeks keanekaragaman jenis pada masing-masing tingkat pertumbuhan di 3 (tiga)
lokasi penelitian (Tabel 2).
Tabel 2. Indeks keanekaragaman jenis (H’) dan indeks kemerataan jenis(E)
|
Tingkat Pertumbuhan
|
Hutan Primer
|
LOA RKT 2006
|
LOA RKT 1986/1987
|
|
H’
|
E
|
H’
|
E
|
H’
|
E
|
|
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
|
1,17
1,02
1,16
1,34
|
0,43
0,39
0,38
0,37
|
0,95
1,11
1,06
1,25
|
0,34
0,37
0,34
0,35
|
1,28
1,52
1,06
1,32
|
0,39
0,41
0,35
0,35
|
Keterangan:
LOA = Log
Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT = Rencana Kerja Tahunan
Nilai H’ pada tiga lokasi
penelitian memiliki nilai dengan kisaran 0,95 – 1,52 untuk semua tingkat
pertumbuhan. Nilai indeks keanekaragaman jenis pada umumnya berada pada kisaran
1,0 sampai 3,5. Jika nilai H’ kurang dari 2 maka termasuk kategori
keanekaragaman jenis tergolong cukup. Nilai E tertinggi pada tingkat
pertumbuhan tertentu tersebut nilainya tidak berbeda jauh dengan tingkat
pertumbuhan lainnya. Semakin besar nilai E (mendekati 1), maka semakin merata
individu jenis tersebar dalam jenis yang ada. Untuk mengetahui jenis – jenis
yang dominan di lokasi penelitian berikut dengan 3 jenis yang memiliki INP
tertinggi pada 3 (tiga) kondisi hutan yang berbeda (Tabel 3).
Berdasarkan hasil pengukuran
diameter pohon dan tinggi pohon, diketahui struktur tegakan berdasarkan
kerapatan per hektar di hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan
bekas tebangan RKT 1986/1987 (Gambar 2 dan Gambar 3).
Tabel 3. Jenis pohon dominan pada hutan primer, hutan
bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 di PT.
Intracawood Manufacturing
|
Tingkat Pertumbuhan
|
Hutan Primer
|
Hutan Bekas Tebangan RKT 2006
|
Hutan Bekas Tebangan RKT 1986/1987
|
|
Nama Jenis
|
INP (%)
|
Nama Jenis
|
INP (%)
|
Nama Jenis
|
INP (%)
|
|
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
|
Scaphium affinis
S. macrophylla*
Dacryodes costata
Knema laurina
H. mangarawan
Dacryodes costata
D. cornutus
Knema laurina
S. pinanga*
D. cornutus
S.
leprosula
S.
assamica
|
39,83
28,13
17,91
46,55
34,75
22,56
66,63
39,75
21,44
43,32
29,21
26,42
|
Scaphium affinis
Pternandra
glaeata
S.
leprosula
Dacryodes costata
Eugenia
jambos
Pternandra glaeata
D. cornutus
S. assamica
S. pinanga*
D.
cornutus
S.
assamica
S. pinanga*
|
72,47
24,12
17,74
38,89
30,19
27,14
90,84
65,99
16,60
58,29
51,03
23,77
|
S.
leprosula
H.
mangarawan
D.
cornutus
Eugenia jambos
S. leprosula
Macaranga gigantea
D. cornutus
Eugenia jambos
S. assamica
D.cornutus
S.
assamica
S. pinanga*
|
22,41
20,16
17,24
22,90
12,89
11,59
84,61
41,79
38,28
46,42
34,18
33,70
|
Keterangan:
INP = Indeks Nilai Penting
* = Kelompok tengkawang
Gambar 2. Struktur tegakan berdasarkan kerapatan/ha
Gambar 3. Struktur tegakan berdasarkan volume/ha
Dari total
kerapatan dan volume per hektar, di hutan primer memiliki total kerapatan dan
volume tertinggi dengan nilai masing-masing 545,50 ind/ha dan 1234,39 m3.
Hal ini dikarenakan di hutan primer ini belum terjadi gangguan dari manusia
atau proses penebangan di kawasan IUPHHK-HA PT. Intracawood Mfg ini. Sedangkan
lokasi yang memiliki total kerapatan terendah adalah di hutan bekas tebangan
RKT 1986/1987 sebesar 476,35 ind/ha dan total volume terendah di hutan bekas tebangan RKT 2006 sebesar
803,49 m3. Hal ini dikarenakan di kedua lokasi ini merupakan Log Over Area (LOA) atau hutan yang
telah mengalami gangguan akibat proses penebangan dan di dalam proses
penebangan tersebut baik dari proses perencanaan di lapangan hingga pemanenan
akan banyak mengurangi jumlah individu tiap jenis dan tidak hanya pohon,
tingkat pertumbuhan lainnya khususnya anakan di hutan tersebut menjadi
berkurang.
Penyebaran tengkawang (Shorea spp.). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, jenis
kelompok tengkawang yang ditemukan antara lain tengkawang rambai (Shorea pinanga Scheff.), tengkawang buah
(Shorea macrophylla Ashton) maupun
tengkawang ayer (Shorea seminis (de
Vriese) Slooten). Penyebaran pohon tengkawang (Shorea spp.) dapat diketahui berdasarkan nilai Indeks Morisita (
(Tabel 4).
Tabel 4. Indeks
Morisita (Id) pohon tengkawang (Shorea
spp.) pada
hutan primer, hutan bekas tebangan RKT 2006 dan hutan bekas tebangan RKT
1986/1987
|
Lokasi
|
Indeks Morisita
|
|
S.
pinanga
|
S.
macrophylla
|
S.
seminis
|
|
Id
|
Id
|
Id
|
|
Hutan
Primer
|
1,14
|
1,79
|
1,39
|
|
LOA
RKT 1986/1987
|
1,01
|
2,08
|
3,57
|
|
LOA
RKT 2006
|
1,51
|
5,00
|
-
|
Keterangan:
LOA = Log
Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT = Rencana Kerja Tahunan
Penyebaran 3 jenis tengkawang
yang ditemukan pada umumnya mengelompok dilihat dari nilai indeks morisita yang
bernilai > 1. Kondisi iklim dan faktor ketersediaan hara atau nutrisi
merupakan faktor lingkungan yang sangat berperan dalam penyebaran. Apabila di
sekitar lokasi induk jenis tumbuhan menyediakan hara yang cukup untuk
pertumbuhan, maka akan cenderung membentuk pola penyebaran yang mengelompok.
Pada umumnya pola yang terjadi di hutan primer adalah mengelompok, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi (1998) untuk jenis pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) pada hutan
primer di HPH PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat. Penelitian lainnya untuk
jenis palahlar gunung (Dipterocarpus
retusus BI) di hutan lindung Gunung Cakrabuana Jawa Barat oleh Pradiastoro
(2004), pola penyebaran jenis di lokasi penelitian tersebut juga mengelompok.
Potensi
dan Tempat Tumbuh Tengkawang (Shorea
spp.). Di
hutan hujan tropis Indonesia telah banyak dikenal ratusan jenis rotan, jenis
pohon tengkawang, jenis anggrek hutan dan beberapa jenis umbi-umbian sebagai
sumber makanan dan obat-obatan (Indriyanto 2005). Dari hasil analisis yang
telah dilakukan, kerapatan dan volume tengkawang (Tabel
5).
Berdasarkan penelitian Heriyanto
dan Mindawati (2008) di kelompok hutan Sungai Jelai, Sungai Delang dan Sungai
Seruyan Hulu Kalimantan Barat, ditemukan 2 jenis tengkawang yaitu Shorea pinanga Scheff. dan Shorea Stenoptera Burck. Forma. Sebaran
jenis penghasil tengkawang berdasarkan kelas diameter antara 20 cm sampai 29 cm
kerapatannya sebanyak 28,25 individu/ha (volume 9,81 m3/ha), kelas
diameter 30 cm sampai 39 cm kerapatannya 1,50 individu/ha (volume 1,29 m3/ha),
kelas diameter 40 cm samapai 49 cm kerapatannya 1,30 individu/ha (volume 2,02 m3/ha)
dan kerapatan pohon yang berdiameter di atas 50 cm sebanyak 0,30 individu/ha
(volume 0,80 m3/ha).
Tabel 5. Jenis dan
kerapatan tengkawang (ind/ha)
|
Tingkat Pertumbuhan
|
Hutan Primer
|
LOA RKT 2006
|
LOA RKT 1986/1987
|
|
Jenis
|
K/ha
|
Jenis
|
K/ha
|
Jenis
|
K/ha
|
|
Semai
|
S. pinanga
|
125,00
|
S. pinanga
|
16,67
|
S. pinanga
|
83,33
|
|
|
S. Seminis
|
65,00
|
S. Seminis
|
6,67
|
S. Seminis
|
50,00
|
|
|
S. macrophylla
|
105,00
|
S. macrophylla
|
3,33
|
S. macrophylla
|
43,33
|
|
Total
|
|
295,00
|
|
26,67
|
|
176,67
|
|
Pancang
|
S. pinanga
|
22,50
|
S. pinanga
|
23,67
|
S. pinanga
|
6,67
|
|
|
|
|
S. macrophylla
|
3,67
|
S. Seminis
|
5,67
|
|
|
|
|
|
|
S. macrophylla
|
4,33
|
|
Total
|
|
22,50
|
|
27,33
|
|
16,67
|
|
Tiang
|
S. pinanga
|
35,00
|
S. pinanga
|
16,67
|
S. pinanga
|
3,33
|
|
|
S. macrophylla
|
25,00
|
|
|
S. macrophylla
|
16,67
|
|
Total
|
|
60,00
|
|
16,67
|
|
20,00
|
|
Pohon
|
S. pinanga
|
10,50
|
S. pinanga
|
10,67
|
S. pinanga
|
15,33
|
|
|
S. seminis
|
4,50
|
S. macrophylla
|
2,00
|
S. seminis
|
2,33
|
|
|
S. macrophylla
|
4,00
|
|
|
S. macrophylla
|
3,00
|
|
Total
|
|
19,00
|
|
12,67
|
|
20,67
|
Keterangan:
LOA = Log
Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT = Rencana Kerja Tahunan
K = Kerapatan Jenis
Ind = Individu
Ha = Hektar
Tabel 6.
Volume
pohon tengkawang (Shorea spp.)
di tiap kondisi hutan
|
Tingkat Pertumbuhan
|
Hutan Primer
|
LOA RKT 2006
|
LOA RKT 1986/1987
|
|
Jenis
|
Vol/ha
|
Jenis
|
Vol/ha
|
Jenis
|
Vol/ha
|
|
Tiang
|
S. pinanga
|
16,77
|
S. pinanga
|
13,48
|
S. pinanga
|
2,61
|
|
|
S. macrophylla
|
10,18
|
|
|
S. macrophylla
|
14,31
|
|
Total
|
|
26,95
|
|
13,48
|
|
16,92
|
|
Pohon
|
S. pinanga
|
155,35
|
S. pinanga
|
153,16
|
S. pinanga
|
287,00
|
|
|
S. Seminis
|
48,96
|
S. macrophylla
|
10,65
|
S. Seminis
|
11,58
|
|
|
S. macrophylla
|
14,29
|
|
|
S. macrophylla
|
59,30
|
|
Total
|
|
218,60
|
|
163,81
|
|
357,88
|
Keterangan:
LOA = Log Over Area (Hutan Bekas Tebangan)
RKT =
Rencana Kerja Tahunan
Vol =
Volume (m3)
Pohon tengkawang yang mendominasi
adalah tengkawang rambai. Dibandingkan jenis lainnya seperti tengkawang buah
dan tengkawang ayer. Pohon tengkawang rambai yang mendominasi pada
masing-masing hutan tersebut merupakan jenis yang paling tinggi kesesuiannya dengan
tempat tumbuh dibandingkan dengan jenis tengkawang lainnya.
Pohon tengkawang (Shorea spp.) di areal PT. Intracawood
Manufacturing berada dalam status pohon yang dilindungi. Namun keberadaan pohon
tengkawang tersebut belum diperhatikan dengan baik. Saat ini ada 36 jenis flora
di areal PT. Intracawood Manufacturing yang telah dikategorikan langka dan
dilindungi (IWM 2007).
Berdasarkan
hasil pengukuran diameter pohon jenis tengkawang dan non-tengkawang, diameter
kelompok pohon tengkawang berkisar 20 cm
– 97 cm. Sedangkan untuk kelompok pohon non-tengkawang berkisar antara
20 cm – 125 cm.
Tabel 7. Jumlah
dan volume per hektar di hutan primer
|
Kelas Diameter (cm)
|
Tengkawang
|
Non-Tengkawang
|
|
N
|
V/ha
|
N
|
V/ha
|
|
10 – 19
|
21,50
|
109,30
|
348,50
|
596,12
|
|
20 – 29
|
5,50
|
4,42
|
63,00
|
40,06
|
|
30 – 39
|
4,00
|
6,14
|
30,00
|
39,83
|
|
40 – 49
|
4,50
|
13,28
|
24,50
|
58,46
|
|
50 – 59
|
2,50
|
11,39
|
7,50
|
28,21
|
|
60 – 69
|
-
|
-
|
12,50
|
74,23
|
|
70 – 79
|
1,50
|
12,56
|
11,00
|
87,27
|
|
80 – 89
|
1,00
|
14,89
|
2,00
|
28,00
|
|
90 – 99
|
-
|
-
|
5,00
|
75,04
|
|
100 up
|
-
|
-
|
1,00
|
35,19
|
|
Total
|
40,5
|
171,98
|
505,00
|
1062,41
|
Tabel 8. Jumlah
dan volume per hektar di hutan bekas tebangan RKT 2006
|
Kelas Diameter (cm)
|
Tengkawang
|
Non-Tengkawang
|
|
N
|
V/ha
|
N
|
V/ha
|
|
10 – 19
|
10,00
|
51,05
|
326,67
|
396,89
|
|
20 – 29
|
4,67
|
3,37
|
72,67
|
52,53
|
|
30 – 39
|
3,67
|
6,68
|
44,00
|
66,01
|
|
40 – 49
|
1,00
|
2,98
|
14,00
|
37,90
|
|
50 – 59
|
-
|
-
|
4,33
|
20,25
|
|
60 – 69
|
0,33
|
2,69
|
5,00
|
30,79
|
|
70 – 79
|
0,67
|
5,84
|
2,67
|
20,05
|
|
80 – 89
|
1,67
|
21,06
|
4,33
|
51,98
|
|
90 – 99
|
0,33
|
4,85
|
0,67
|
9,83
|
|
100 up
|
-
|
-
|
0,67
|
18,26
|
|
Total
|
22,34
|
98,52
|
475,01
|
704,49
|
Keterangan:
V = Volume (m3) per hektar
N = Kerapatan (ind/ha)
Tabel 9. Jumlah dan volume per hektar di hutan bekas
tebangan RKT 1986/1987
|
Kelas Diameter (cm)
|
Tengkawang
|
Non-Tengkawang
|
|
N
|
V/ha
|
N
|
V/ha
|
|
10 – 19
|
20,67
|
119,29
|
289,33
|
530,31
|
|
20 – 29
|
3,33
|
2,55
|
63,00
|
46,89
|
|
30 – 39
|
3,33
|
4,89
|
36,67
|
51,98
|
|
40 – 49
|
4,67
|
14,25
|
22,67
|
61,39
|
|
50 – 59
|
1,67
|
7,07
|
8,33
|
36,12
|
|
60 – 69
|
3,67
|
23,09
|
5,00
|
31,60
|
|
70 – 79
|
2,33
|
20,76
|
4,67
|
37,28
|
|
80 – 89
|
0,67
|
8,79
|
3,33
|
38,38
|
|
90 – 99
|
0,67
|
10,74
|
1,67
|
24,42
|
|
100 up
|
-
|
-
|
0,67
|
16,12
|
|
Total
|
41,01
|
211,43
|
435,34
|
874,49
|
Keterangan:
V = Volume (m3)
N = Kerapatan
Berdasarkan nilai total kerapatan
dan volume tengkawang per hektar pada hutan primer, hutan bekas tebangan RKT
2006 dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987, jumlah dan volume kelompok
tengkawang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok non-tengkawang. Dilihat
dari total persentase total kerapatan dan volumenya, di hutan primer (8,02% dan
16,19%) dan hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 (9,42% dan 24,18%) memiliki
jumlah persentase yang lebih besar dibandingkan di hutan bekas tebangan RKT
2006 (4,70% dan 13,98%) karena dengan
adanya proses penebangan yang baru saja dilakukan pada tahun 2006 tersebut maka
akan mengurangi jumlah permudaan, anakan bahkan pohon-pohon di sekitar lokasi
penebangan.
Untuk mengetahui kesesuaian
tempat tumbuh dengan suatu jenis tumbuhan, maka diperlukan data fisik
lingkungan di lokasi penelitian tersebut. Suhu udara pada hutan primer dan hutan bekas tebangan rata-rata berkisar
antara 21 – 22,5 °C. Kemiringan tanah di kondisi hutan primer dan hutan bekas
tebangan RKT 2006 berkisar antara 0 – 80 % sehingga termasuk kedalam kriteria
datar hingga sangat curam sedangkan pada lokasi penelitian di kondisi hutan bekas tebangan RKT 1986/1987 kemiringan
tanahnya termasuk kriteria datar hingga curam yaitu berkisar antara 0 – 36 %.
Sedangkan ketinggian tempat sebagai habitat tengkawang, tengkawang dapat tumbuh
hingga ketinggian 500 m dpl. Menurut Martawijaya et al (1981), tengkawang
tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A dan B. Jenis ini
tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah kuning dan podsolik kuning pada
ketinggian sampai 1300 m dari permukaan laut .
Kondisi tanah pada areal
penelitian bersifat masam (4,5 – 5,5) dilihat dari nilai pH pada hutan primer
sebesar 4,6 dan hutan bekas tebangan sebesar 4,9. Sedangkan kapasitas tukar
kation (KTK) cukup tinggi sehingga dapat memenuhi penyediaan hara dalam tanah
tersebut. Jadi dalam kondisi tanah masam, pohon tengkawang dapat tumbuh dengan
baik karena penyediaan haranya masih cukup.
KESIMPULAN
Berdasarkan
tujuan dan hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di areal
IUPHHK-HA PT. Intracawood
Manufacturing, kesimpulan yang dapat diambil antara lain:
1.
Jenis-jenis
tengkawang yang ditemukan di areal penelitian antara lain yaitu tengkawang
rambai (Shorea pinanga Sceff.),
tengkawang buah (Shorea macrophylla
Ashton), dan tengkawang ayer (Shorea
seminis (de Vriese) Slooten)
2.
Potensi
tengkawang berdasarkan volume pohon per hektar, di hutan primer dan hutan bekas
tebangan RKT 1986/1987 berpotensi lebih besar dibandingkan dengan tengkawang di
hutan bekas tebangan di hutan bekas tebangan RKT 2006
3.
Penyebaran
3 jenis tengkawang yang ditemukan pada umumnya mengelompok dilihat dari nilai
indeks morisita yang bernilai > 1
4.
Tengkawang dapat tumbuh dalam hutan hujan tropis
dengan tipe curah hujan di lokasi penelitian adalah tipe A. Jenis ini tumbuh
pada tanah latosol pada ketinggian sampai 500 m dari permukaan laut, pH asam
(4,6 – 4,9) dan KTK cukup baik (16,25 – 19,40).
DAFTAR
PUSTAKA
[IWM]
PT. Intracwood Manufacturing. 2007. Rencana
kerja usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam pada hutan produksi
periode 2008 s/d 2017. Bulungan dan Malinau : PT. Intracawood
Manufacturing.
Heriyanto
dan Mindawati. 2008. Konservasi jenis
tengkawang (Shorea spp.) pada
kelompok hutan Sungai Jelai-Sungai delang-Sungai Seruyam hulu di Propinsi
Kalimantan Barat. Info Hutan 5 (3): 281-287.
Indriyanto. 2005. Ekologi
hutan. Bandar Lampung: PT. Bumi Aksara.
Martawijaya A et al.
1981. Atlas kayu Indonesia (jilid I). Bogor: Balitbang.
Pradiastoro A. 2004. Kajian
tempat tumbuh alami Palahlar Gunung (Dipterocarpus
retusus BI) di kawasan hutan lindung
Gunung Cakrabuana Kabupaten Sumedang Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Soerianegara I dan Lemmens RHMJ. 1994. Plant Resources of South-East Asia No. 5
(1). Bogor - Indonesia.
Supriyadi
L. 1998. Studi potensi pasak bumi (Eurycoma latifolia Jack.) dan kemungkinan pemanfaatannya di areal
kerja PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat. [Skripsi]. Bogor: Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.