Struktur Komunitas Dan Kelimpahan
Fitoplankton Dalam Kaitannya Dengan Parameter Fisika-Kimia Perairan Di Danau
Laguna Ternate, Maluku Utara
fahriya afsindir*
Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Khairun
Kampus
Gambesi Maluku Utara
ABSTRAK
Latar Belakang: Fitoplankton mempunyai peranan yang sangat penting di
dalam suatu perairan, selain sebagai dasar dari rantai pakan (primary producer) juga merupakan salah
satu parameter tingkat kesuburan suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton di Danau Laguna serta
mempelajari keterkaitan antara kelimpahan fitoplankton dengan beberapa
parameter fisika-kimia perairan.
Metode: Penelitian dilaksanakan
pada bulan Februari hingga Maret 2006 di Danau Laguna Ternate selama 3 (tiga)
periode pada 3 (tiga) stasiun, dengan
metode penyaringan.
Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 5 genus
fitoplankton dari 2 kelas yaitu Bacillariophyceae (4 genus) dan Desminidiaceae
(1 genus). Kelimpahan yang diperoleh berkisar antara 4129-22504 individu/L,
kelimpahan tertinggi pada stasiun 2 periode I (22504 individu/L) dan terendah
pada stasiun 1 periode III (4129 individu/L).
Kisaran nilai indeks-indeks biologi yang
ditemukan adalah indeks keanekaragaman (H’) = 0,4481-0,9507, indeks keseragaman
(E) = 0,6289-0,9852, dan indeks dominansi (D) = 0,4409-0,7243. Parameter
fisika-kimia perairan berturut-turut adalah nitrat 0,11-0,54 mg/L, ortofosfat
0,13-0,22 mg/L, pH 7-8, suhu 29-30oC, dan kecerahan 3-5 m. Hasil analisis regresi linear berganda
ditemukan bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara parameter fisika-kimia
perairan dengan kelimpahan fitoplankton (R2 = 0,806) dan persamaan
regresi Y = - 209957 – 9230,6
nitrat + 195975,5 ortofosfat +
3490,5 pH + 5607,9 suhu
- 388,7 kecerahan.
Kata kunci : komunitas, kelimpahan, fitoplankton, dan
Danau Laguna
Relationship of Phytoplankton Community
Structure and Abundance and Waters Physical-Chemistry Parameters at Laguna Lake,
North Maluku
ABSTRACT
Back ground:
Phytoplankton has very essential role in waters environmental, both as
fundamental of food chain (primary producer) and as one tropic level parameter.
The objectives of this research are to study phytoplankton community structure
and abundance at Laguna
Lake, and to study
relationship between phytoplankton abundance with waters physical-chemistry
parameters.
Methods: This
research as conducted for 3 periods, on February to March 2006. Sampling were taken biweekly from 3 stations
by filtration method.
Result : The results showed that there were 5 genera of phytoplankton from 2 classes i. e : Bacillariophyceae (4 genera) and Desminidiaceae
(1 genera). Abundance of phytoplankton
ranged from 4129-22504 ind/L, the highest
value was on station 2 period I (5454538 ind/L) and the lowest on station 1 period III (4129 ind/L).
The value range of phytoplankton biological index calculated were
diversity index (H’) = 0,4481 – 0,9507, equitability index (E) = 0,6289 –
0,9852, and dominant index (D) = 0,4409 – 0,7243. Physical-chemistry parameters of the water
were 0,11-0,54 mg/L of nitrate, 0,13 -
0,22 mg/L of orthophosphate, 7-8 of pH, 29 -30oC of temperature, 3 –
5 m of transparency, respectively. Multiple regression analysis show that there
was relationship between waters physical-chemistry parameters and phytoplankton
abundance (R2 = 0,806), where the regression equation was Y = -
209957 – 9230,6 nitrate + 195975,5
orthophosphate + 3490,5 pH +
5607,9 temperature - 388,7 transparency.
Key word : Community,
abundance, phytoplankton, and Laguna
Lake
|
||||
PENDAHULUAN
Fitoplankton dapat
berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan
kondisi suatu perairan.
Salah satu ciri khas
organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan
(Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat
menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur
atau tidak.
Kelimpahan fitoplankton
di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan
karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah
pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi
lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984). Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat
kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti
intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur
hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas
pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne,
1983).
Danau Laguna merupakan
salah satu danau yang ada di Pulau Ternate, danau ini telah dimanfaatkan
sebagai kawasan pariwisata dan lokasi budidaya keramba jaring apung (KJA). Danau Laguna berpotensi menjadi danau yang
mempunyai tingkat kesuburan yang sangat
tinggi (eutrofik) disebabkan oleh jumlah KJA yang meningkat setiap tahun, hal
ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas perairan. Salah satu diantaranya
adalah dapat meningkatkan unsur hara
(nitrogen dan fosfor) yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh
ikan dan sisa metabolisme ikan. Muatan unsur hara yang berlebihan dapat
merangsang pertumbuhan fitoplankton dengan cepat dan berlimpah sehingga dapat
mempengaruhi fluktuasi dan kelimpahan fitoplankton yang ada di perairan ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur
komunitas dan kelimpahan fitoplankton di Danau Laguna serta mempelajari
keterkaitan antara kelimpahan fitoplankton dengan beberapa parameter
fisika-kimia perairan.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Maret 2006 di Danau Laguna selama 3 periode (waktu pengamatan), pada 3
stasiun. Contoh air disaring sebanyak 30 liter dengan menggunakan plankton net
ukuran 25 μm. Hasil penyaringan
dimasukkan ke dalam botol volume 110 ml dan diawetkan dengan formalin 4%.
Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Laboratorium Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, dengan berpedoman pada buku identifikasi
Davis (1955), Needham
and Needham
(1963), dan Sachlan (1982).
Kelimpahan jenis fitoplankton dihitung berdasarkan
persamaan menurut APHA (1989) sebagai berikut :
N =
Oi/Op x Vr/Vo
x 1/Vs x
n/p
dengan :
N = Jumlah individu per
liter
Oi = Luas gelas penutup preparat (mm2)
Op = Luas satu lapangan pandang (mm2)
Vr = Volume air tersaring (ml)
Vo = Volume air yang diamati (ml)
Vs = Volume air yang disaring (L)
n = Jumlah plankton pada seluruh lapangan
pandang
p = Jumlah lapangan pandang yang teramati
Indeks Shannon-Wiener digunakan untuk menghitung indeks
keanekaragaman (diversity index)
jenis, indeks keseragaman, dan indeks dominansi dihitung menurut Odum (1998)
dengan rumus sebagai berikut :
1. Indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener :
s
H’ =
- S (ni/N) ln (ni/N)
i=1
2. Indeks keseragaman :
E =
H’/Hmax
3. Indeks dominansi :
s
D = ∑
[ ni/N ]2
i=1
dengan :
H’ = Indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener
E =
Indeks keseragaman
D =
Indeks dominansi simpson
ni =
Jumlah individu genus ke-i
N =
Jumlah total individu seluruh genera
Hmax=
Indeks keanekaragaman maksimum
(= ln S, dimana S = Jumlah jenis)
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Struktur Komunitas
Hasil pencacahan fitoplankton, ditemukan
5 genus dari 2 kelas yaitu Bacillariophyceae (4 genus) dan Desminidiaceae (1
genus). Kelas Bacillariophyceae terdapat pada semua stasiun dan periode
pengamatan sedangkan kelas Desminidiaceae hanya ditemukan pada stasiun 2
periode II (Gambar 1). Hal ini mengindikasikan bahwa
kelas Bacillariophyceae memiliki penyebaran yang luas di perairan Danau Laguna
sedangkan Desminidiaceae mempunyai penyebaran yang lebih sempit. Hal ini sesuai
dengan penelitian Yuliana dan Tamrin (2005) bahwa Bacillariophyceae merupakan
kelas yang ditemukan dominan di Danau Laguna.
Tetapi, berbeda dengan penelitian Umar (2003) di Waduk Ir. Juanda
Jatiluhur yang menemukan bahwa kelas yang dominan adalah Chlorophyceae
sedangkan Baksir (1999) mendapatkan kelas yang paling banyak di Waduk Cirata
adalah Cyanophyceae. Di perairan tawar, khususnya danau dan waduk fitoplankton
yang dominan dan mempunyai penyebaran yang luas serta memegang peranan penting
dalam rantai makanan adalah Bacillariophyceae, Cyanophyceae, dan Chlorophyceae
(Ruttner, 1965; Boney, 1975; Sellers dan Markland, 1987; Noryadi, 1998; dan
Simarmata, 1998).

Gambar 1. Komposisi
kelas fitoplankton di Danau Laguna, Maluku Utara
Sebaran komposisi fitoplankton pada
tiga stasiun pengamatan di Danau Laguna yaitu stasiun 1 ditemukan 3 genera dari
1 kelas, stasiun 2 ditemukan 5 genera
dari 2 kelas, dan stasiun 3 ditemukan 3 genera dari 1 kelas. Genus dari kelas
Bacillariophyceae yang paling banyak ditemukan dan terdapat pada semua periode
dan stasiun pengamatan adalah Diatoma
dan Nitzschia, sedangkan Cossinodiscus hanya dijumpai pada
periode II stasiun 2. Genus Euastrum
(kelas Desminidiaceae) hanya didapatkan pada periode II stasiun 2.
2. Kelimpahan
Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan
selama penelitian bervariasi, baik antar setiap periode maupun setiap stasiun.
Selama 3 periode pengamatan, kelimpahan fitoplankton yang didapatkan berkisar
antara 4129-22504 ind/L, dengan kisaran nilai masing-masing periode adalah
periode I = 8671-22504 ind/L, periode II = 5574 –
18788 ind/L, dan periode III = 4129 – 10116 ind/L, apabila kelimpahan pada
setiap periode pengamatan dijumlahkan, maka diperoleh nilai tertinggi pada
periode II (30762 ind/L) dan terendah pada periode III (21884 ind/L) (Gambar
2). Tingginya nilai kelimpahan yang diperoleh pada periode II disebabkan oleh
parameter-parameter lingkungan yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan
fitoplankton pada periode ini berada pada kisaran yang sesuai, suhu dan pH
perairan berada pada nilai yang optimal untuk mendukung kehidupan fitoplankton,
sedangkan kandungan nutrien (nitrat dan ortofosfat) bukan merupakan nilai yang
optimum dan belum menjadi faktor pembatas bagi fitoplankton dengan kisaran
nilai berturut-turut adalah nitrat : 0,11-0,54 mg/L dan ortofosfat : 0,15-0,20
mg/L. Menurut Mackentum (1969), untuk pertumbuhan optimal fitoplankton
memerlukan kandungan nitrat pada kisaran 0,9-3,5 mg/L dan ortofosfat adalah
0,09-1,80 mg/L. Lebih lanjut dijelaskan Bruno et al., (1979 dalam
Sumardianto, 1995) bahwa kandungan ortofosfat yang optimal bagi pertumbuhan
fitoplankton adalah 0,27-5,51 mg/L, jika kandungannya kurang dari 0,02 mg/L
maka akan menjadi faktor pembatas. Demikian pula, pada periode ini intensitas
cahaya yang masuk ke dalam perairan diduga cukup untuk aktivitas fotosintesis
sehingga pertumbuhan fitoplankton lebih pesat dibandingkan dengan periode yang
lain. Nilai terendah yang diperoleh pada periode III disebabkan oleh parameter
fisika kimia perairan yang kurang layak untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan fitoplankton pada saat itu.

Gambar 2. Kelimpahan
fitoplankton berdasarkan waktu pengamatan di Danau Laguna, Maluku Utara
Kelimpahan antar stasiun pengamatan
memiliki nilai yang bervariasi dengan nilai masing-masing adalah stasiun 1 = 4129 – 10116 ind/L, stasiun 2 = 7639 – 22504
ind/L, dan stasiun 3 = 5574 – 10116 ind/L (Gambar 3), nilai tertinggi pada
stasiun 2 (48931 ind/L) dan terendah pada stasiun 1 (20645 ind/L). Tingginya kelimpahan yang diperoleh pada
stasiun 2 diduga disebabkan oleh kandungan unsur hara, bahan organik, dan
fisika kimia air lainnya cukup tinggi dan cocok untuk kehidupan fitoplankton
dibandingkan dengan stasiun yang lain, sehingga memungkinkan terjadinya
pertumbuhan dan perkembangan sel fitoplankton yang lebih baik. Pada stasiun ini, kandungan ortofosfat
berkisar antara 0,20 - 0,22 mg/L (Tabel 2), kadar ini lebih tinggi dibandingkan
dengan stasiun yang lain sehingga memungkinkan fitoplankton berkembang dengan
pesat. Menurut Raymont (1980) fosfat merupakan salah satu unsur penting dalam
pertumbuhan dan metabolisme tubuh Diatom. Selain itu, pada lokasi ini terdapat
KJA yang masih produktif sehingga memungkinkan penambahan unsur hara, terutama
nitrogen dan fosfor yang berasal dari sisa pakan. Intensitas cahaya yang sangat
berperan dalam proses fotosintesis diduga relatif tidak berpengaruh, karena
setiap stasiun mempunyai nilai kecerahan yang hampir sama. Demikian pula, suhu dan pH perairan mempunyai
nilai yang tidak jauh berbeda sehingga diduga tidak memberikan pengaruh yang
nyata terhadap fitoplankton. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kimmel dan
Groeger (1984) serta Thornton et al.
(1990) bahwa ketersediaan unsur hara dan cahaya yang cukup dapat digunakan oleh
fitoplankton untuk perkembangannya.
Nilai terendah yang
ditemukan pada stasiun 1 kemungkinan disebabkan oleh tidak adanya masukan
nutrien terutama dari sisa pakan pada karena pada lokasi ini KJA yang ada tidak
berfungsi lagi.

Gambar 3. Kelimpahan fitoplankton berdasarkan stasiun
di Danau Laguna, Maluku Utara
Nilai
kelimpahan fitoplankton yang didapatkan lebih rendah
bila dibandingkan dengan hasil penelitian Umar (2003) di Waduk Jatiluhur
Purwakarta yang memperoleh kelimpahan sebesar 2901025 sel/L dan penelitian
Baksir (1999) di Waduk Cirata Jawa Barat dengan kelimpahan 1735 x 105 ind/L,
tetapi lebih tinggi dari penelitian Yuliana dan Tamrin (2005) dengan nilai
93937 ind/L.
3. Indeks-indeks
Biologi
Indeks keanekaragaman (H’),
indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (D) memperlihatkan kekayaan jenis
dalam suatu komunitas serta keseimbangan jumlah individu tiap jenis. Hasil perhitungan indeks-indeks tersebut
disajikan pada Tabel 1.
Tabel
1. Indeks-indeks Biologi (Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, dan Indeks Dominansi) Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku Utara
|
Waktu
Pengamatan
|
Stasiun
|
Indeks-Indeks
Biologi
|
||
|
H'
|
E
|
D
|
||
|
Periode I
|
1
|
0.6909
|
0.6289
|
0.5635
|
|
|
2
|
0.4481
|
0.6464
|
0.7243
|
|
|
3
|
0.6829
|
0.9852
|
0.5102
|
|
Periode II
|
1
|
0.7585
|
0.6904
|
0.5213
|
|
|
2
|
0.9507
|
0.6858
|
0.4409
|
|
|
3
|
0.6365
|
0.9183
|
0.5556
|
|
Periode III
|
1
|
0.6474
|
0.9341
|
0.545
|
|
|
2
|
0.6086
|
0.878
|
0.5822
|
|
|
3
|
0.7572
|
0.6892
|
0.501
|
Keterangan : H’
= Indeks Keanekaragaman, E = Indeks Keseragaman,
D = Indeks Dominansi
Nilai indeks keanekaragaman
(H’) berbeda antara setiap periode dan stasiun pengamatan dengan kisaran nilai
adalah 0,4481-0,9507 (Tabel 1). Nilai indeks setiap stasiun yang diperoleh di
Danau Laguna berdasarkan kriteria Wilhm dan Dorris (1968 dalam Masson, 1981) termasuk dalam kategori rendah dengan nilai H’< 1,0000. Hal ini mengindikasikan bahwa penyebaran
jumlah individu tiap jenis rendah, kestabilannya rendah.
Nilai indeks keseragaman
(E) yang didapatkan selama penelitian adalah 0,6289-0,9852 (Tabel 1). Nilai
yang diperoleh tersebut termasuk dalam
kategori tinggi dengan nilai di atas 0,5 atau mendekati 1, yang menunjukkan
bahwa penyebaran individu setiap jenis relatif merata dan tidak ada
kecenderungan terjadi dominansi oleh satu genera dari jenis yang ada.
Indeks dominansi yang
ditemukan adalah 0,4409-0,7243 (Tabel 1). Hal ini berarti bahwa tidak ada
spesies yang secara ekstrim mendominasi spesies yang lain.
4. Parameter
Fisika-Kimia Perairan
Hasil pengukuran beberapa parameter
kualitas air selengkapnya disajikan pada Tabel 2.
Tabel
2. Nilai Parameter Fisika-Kimia perairan selama penelitian di Danau Laguna
Ternate, Maluku Utara
|
Waktu
Pengamatan
|
Stasiun
|
Parameter
Fisika-Kimia
|
||||
|
Nitrat
(mg/L)
|
Ortofosfat
(mg/L)
|
pH
|
Suhu (oC)
|
Kecerahan
(m)
|
||
|
Periode I
|
1
|
0,26
|
0,20
|
7
|
29
|
3
|
|
|
2
|
0,34
|
0,22
|
7
|
29
|
3
|
|
|
3
|
0,20
|
0,13
|
8
|
30
|
3
|
|
Periode II
|
1
|
0,54
|
0,17
|
7
|
29
|
4
|
|
|
2
|
0,17
|
0,20
|
7
|
30
|
4
|
|
|
3
|
0,11
|
0,15
|
7
|
29
|
4
|
|
Periode III
|
1
|
0,45
|
0,19
|
7
|
29
|
3
|
|
|
2
|
0,32
|
0,20
|
7
|
29
|
4
|
|
|
3
|
0,27
|
0,18
|
7
|
29
|
3
|
Suhu perairan yang terukur berkisar
antara 29-30 oC (Tabel 2) kisaran ini merupakan nilai yang optimum
untuk fitoplankton. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Effendi (2003)
bahwa kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan fitoplankton di perairan
adalah 20-30 oC.
Nilai kecerahan yang diperoleh adalah 3
– 4 m (Tabel 2), nilai ini termasuk rendah. Pengaruh
ekologis dari kecerahan akan menyebabkan penurunan penetrasi cahaya ke
dalam perairan yang selanjutnya akan menurunkan fotosintesis dan produktivitas
primer fitoplankton (Nybakken, 1992).
Kisaran nilai pH yang dijumpai selama
penelitian adalah 7 – 8 (Tabel 2), nilai ini sesuai dengan yang dibutuhkan
untuk kehidupan fitoplankton di perairan yaitu 6,5 – 8,0 (Pescod, 1973).
Kadar nutrien yang didapatkan pada umumnya
berada di bawah konsentrasi optimum, akan tetapi masih dapat menopang kehidupan
fitoplankton, dengan kisaran nilai nitrat adalah 0,11-0,54 mg/L dan ortofosfat
0,13-0,22 mg/L (Tabel 2).
5.
Keterkaitan antara
Kelimpahan Fitoplankton dengan Parameter Fisika-Kimia Perairan
Keterkaitan
antara kelimpahan fitoplanton dengan parameter fisika-kimia perairan dianalisis
dengan menggunakan analisis linear berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa
terdapat keterkaitan yang erat antara parameter fisika-kimia perairan dengan
kelimpahan fitoplankton, yang dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2)
sebesar 0,806 dengan persamaan regresi Y =
- 209957 – 9230,6 nitrat +
195975,5 ortofosfat + 3490,5 pH
+ 5607,9 suhu -
388,7 kecerahan.
Diantara
parameter fisika-kimia perairan tersebut, yang paling berpengaruh terhadap
kelimpahan fitoplankton adalah ortofosfat dengan nilai R2 sebesar
0,573 dan persamaan regresinya adalah Y = -12464,6 + 125681,1 ortofosfat,
sedangkan yang paling rendah pengaruhnya terhadap kelimpahan fitplankton adalah
pH dengan nilai R2 = 0,107
dan persamaan regresinya adalah Y = 24568 – 1987,1 pH.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan
bahwa komposisi jenis fitoplankton didominasi oleh kelas
Bacillariophyceae.
Indeks-indeks biologi fitoplankton seperti indeks
keanekaragaman (H’) termasuk dalam kategori rendah, indeks keseragaman (E)
tergolong besar, dan dari nilai indeks dominansi dapat dijelaskan bahwa tidak
ada spesies yang mendominasi spesies yang lain.
Hasil analisis regresi linear berganda ditemukan bahwa
terdapat keterkaitan yang erat antara parameter fisika-kimia perairan dengan
kelimpahan fitoplankton (R2 = 0,806) dan persamaan regresi Y = - 209957 – 9230,6 nitrat + 195975,5 ortofosfat +
3490,5 pH + 5607,9 suhu
- 388,7 kecerahan.
DAFTAR PUSTAKA
1. American Public Health Association (APHA). 1989. Standard Methods for the Examination of
Water and Waste Water Including Bottom Sediment and Sludges. 17th
ed. Amer. Publ. Health Association Inc.,
New York. 1527 p.
2. Baksir, A. 1999. Hubungan
antara Produktivitas Primer Fitoplankton dan Intensitas Cahaya di Waduk Cirata,
Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Tesis.
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
3.
Davis, G.C.
1955. The Marine and
Freshwater Plankton. Michigan State University
Press, USA. 526 p
4.
Dawes,
C.J. 1981. Marine
Botany. A Willey Interscience Publ : 628 p
5.
Effendi,
H. 2003.
Telaahan Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta. 258 p.
6.
Goldman,
C. R dan A.J. Horne. 1983. Limnology. Mc Graw-Hill International
Book Company, New York. 464 p
7.
Kimmel,
B.L and O.W.Groeger. 1984. Factors
Controlling Phytoplankton Production in Lakes Reservoir : A Perspective. EPA, Washington
DC. P : 227-281
8.
Mackentum,
K.M. 1969. The Practice of Water
Pollution Biology. United States
Departement of Interior, Federal Water Pollution Control Administration,
Division of Technical Support. 411 p
9.
Needham, J.G and P.R. Needham. 1963. A Guide to the Study of Freshwater Biology. Fifth Edition. Revised and Enlarged, Holden Day, Inc. San
Fransisco. 108 p
10.
Nybakken,
J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan dari Marine Biology : An Ecological Approach. Alih Bahasa : M.
Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen dan M. Hutomo.
Gramedia, Jakarta. 459 p
11.
Odum,
E.P. 1998. Dasar-dasar Ekologi :
Terjemahan dari Fundamentals of Ecology. Alih Bahasa Samingan, T. Edisi
Ketiga. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta. 697 p
12.
Pescod.
M.B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream
Standard for Tropical Countries. Bangkok : AIT
13.
Raymont,
J.E.G. 1980. Plankton and Productivity in the Ocean. New
York : Mc. Millan Co.
14.
Reynolds,
C.S., J.G. Tundisi and K. Hino. 1984.
Observation on a Metalimnetic Phytoplankton
Population in a Stably Stratified Tropical Lake.
Arch. Hydrobyol. Argentina. 97 : 7 – 17.
15.
Sachlan,
M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta.
141 p
16.
Thornton, K.W., B.L Kimmel and F.E
Payne. 1990. Reservoir Limnology : Ecology Perspective. John Wiley & Sons. Inc, New
York. 246
p
17.
Umar,
C. 2003. Struktur Komunitas dan Kelimpahan Fitoplankton dalam Kaitannya dengan
Kandungan Unsur Hara (Nitrogen dan Fosfor) dari Budidaya Ikan dalam Keramba
Jaring Apung di Waduk Ir. H. Juanda Jatiluhur Jawa Barat. Tesis. Program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 94 p
18.
Yuliana dan
Tamrin. 2005. Fluktuasi dan Kelimpahan
Fitoplankton di Danau Laguna Ternate, Maluku
Utara. 11 p (belum dipublikasikan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar