PENGARUH SUHU TERHADAP MEMBUKA DAN MENUTUPNYA PADA OPERCULUM IKAN
Ikan dalam arti sebenarnya adalah makhluk hidup / binatang bertulang
belakang yang selama hidupnya (hidup) di dalam air, bernafas dengan
insang, berdarah dingin, bersisik / tidak, dan bersirip (berpasangan dan
tunggal).
Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotermik, suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan. Bagi hewan akuatik, suhu media air merupakan faktor pembatas , oleh karena itu perubahan suhu media air akan mempengaruhi kandungan Oksigen terlarut, yang akan berakibat pada laju pernafasan dan laju metabolisme hewan akuatik tersebut.
Biologi dan MorfologI Ikan Mas
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulka, di bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).
Ikan mas dapat di klasifikasikan secara taksonomi (Susanto, 2007) sebagai berikut:
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulka, di bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).
Ikan mas dapat di klasifikasikan secara taksonomi (Susanto, 2007) sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : (Cyprinus carpio L )
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : (Cyprinus carpio L )
Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah
insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang
tampak dari luar (Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang
disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas. Disamping alat-alat
yang terdapat dalam, rongga peritoneum dan pericardium, gelembung
renang, ginjal, dan alat reproduksi pada sistem pernapasan ikan umumnya
berupa insang (Bactiar,2002)
Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m diatas permukaan laut, dengan suhu 20 oC-25 oC pH air antara 7-8 (Herlina,2002).
Ikan ini merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik ataupun tumbuh-tumbuhan (omnivore). Kolam yang di bangun dari tanah banyak mengandung pakan alami,ikan ini mengaduk Lumpur,memangsa larva insekta,cacing-cacing mollusca (Djarijah,2001).
Cahyono (2000) menyatakan, jenis makan dan tambahan yang biasa di berikan pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah pemotongan hewan, sampah rumah tangga dan lain-lain, sedangkan untuk makanan buatan biasanya di berikan berupa crumble dan pellet.
Habitat
Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatra dalam bentuk empang, balong maupun keramba terapung yang di letakan di danau atau waduk besar. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat pertumbuhannnya.
Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi rindangmya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Di Indonesia sendiri untuk mencari tempat memancing ikan mas bukanlah hal yang sulit. Karena selain telah dibudidayakan banyak empang yang sengaja dibuat demi memanjakan para penggemar mancing ikan mas.
Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatra dalam bentuk empang, balong maupun keramba terapung yang di letakan di danau atau waduk besar. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat pertumbuhannnya.
Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi rindangmya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Di Indonesia sendiri untuk mencari tempat memancing ikan mas bukanlah hal yang sulit. Karena selain telah dibudidayakan banyak empang yang sengaja dibuat demi memanjakan para penggemar mancing ikan mas.
Perkembangbiakan
Ikan Mas berkembang biak dengan bertelur, masa kawinnya pada daerah tropis pada saat awal musim hujan. Ikan Mas betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air di perairan dangkal yang tembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada dedaunan. Pada suhu yang hangat dan kondisi yang ideal telurnya akan menetas dalam 5 sampai 8 hari. Karena malasnya sang induk betina maupun jantan maka hasil yang menetas sangat sedikit dibanding telurnya. Para petani yang membudidayakan ikan ini biasanya memindahkan telur-telur yang telah menempel pada medianya ke kolam lain agar didapat hasil yang maksimal. Beberapa bulan kemudian ikan mas sudah layak dikonsumsi beratnya lebih kurang 250 gram. Untuk pancingan biasanya adalah ikan mas yang telah mencapai berat 500 gram ke atas.
Ikan Mas berkembang biak dengan bertelur, masa kawinnya pada daerah tropis pada saat awal musim hujan. Ikan Mas betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air di perairan dangkal yang tembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada dedaunan. Pada suhu yang hangat dan kondisi yang ideal telurnya akan menetas dalam 5 sampai 8 hari. Karena malasnya sang induk betina maupun jantan maka hasil yang menetas sangat sedikit dibanding telurnya. Para petani yang membudidayakan ikan ini biasanya memindahkan telur-telur yang telah menempel pada medianya ke kolam lain agar didapat hasil yang maksimal. Beberapa bulan kemudian ikan mas sudah layak dikonsumsi beratnya lebih kurang 250 gram. Untuk pancingan biasanya adalah ikan mas yang telah mencapai berat 500 gram ke atas.
Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan (Feeding Habit) ikan mutlak diketahui seorang pemancing
walau dirinya bukan seorang biolog, karena pengetahuan ini memberikan
petunjuk buat pemancing tentang umpan, selera makan, waktu makan dan
sebagainya. Ikan Mas dapat dikatagorikan sangat rakus. Memakan segala
pakan yang terdapat di dasar air, pertengahan air dan permukaan air.
Pakan alaminya meliputi tumbuhan air, lumut, cacing, keong, udang,
kerang, larva serangga dan organisma lainnya yang ada di perairan. Dia
akan membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian menyedot makanannya seperti alat penghisap. Terkadang mengaduk-aduk dasar air dengan mulut dan badannya sehingga menimbulkan bayang kecoklatan pada perairan.
1. Pengaruh Perubahan Suhu Panas Terhadap Membuka / Menutup Operculum Benih Ikan Mas
a. Pada suhu kamar 26ºC
Pada percobaan pertama berdasarkan hasil penelitian yang kami dapatkan pada suhu kamar bukaan operculum sangat bervariasi antara ikan 1-5, ada yang bukaan operculumnya semakin banyak dari menit ke menit, ada pula yang bukaan operculumnya semakin sedikit dari menit ke menitnya. Menurut kami itu mungkin dikarenakan perbedaan ukuran, umur, serta keadaan ikan tersebut pada saat diambil apakah dalam keadaan rilex atau mungkin stress, bisa juga dikarenakan ikan beradaptasi dengan lingkungannya (media air yang baru) sehingga menyebabkan bukaan operculumnya tidak stabil.
Pada percobaan pertama berdasarkan hasil penelitian yang kami dapatkan pada suhu kamar bukaan operculum sangat bervariasi antara ikan 1-5, ada yang bukaan operculumnya semakin banyak dari menit ke menit, ada pula yang bukaan operculumnya semakin sedikit dari menit ke menitnya. Menurut kami itu mungkin dikarenakan perbedaan ukuran, umur, serta keadaan ikan tersebut pada saat diambil apakah dalam keadaan rilex atau mungkin stress, bisa juga dikarenakan ikan beradaptasi dengan lingkungannya (media air yang baru) sehingga menyebabkan bukaan operculumnya tidak stabil.
b. Pada suhu 29 ºC
Pada percobaan kedua pada saat suhu dinaikan, ternyata bukaan operculum dari ikan ke 1-5 mengalami kenaikan yang signifikan. Sebagai contoh pada ikan pertama dengan suhu kamar saat menit pertama bukaan operculum sebanyak 166 kali, setelah suhunya dinaikan 3ºC bukaan operculum ikan tersebut naik menjadi 193 kali. Menurut hasil analisa kami bahwa hasil tersebut dikarenakan ikan mungkin stress, itu mungkin karena saat pengambilan ikan praktikan melakukannya dengan asal sehingga ikan menjadi stress. selain itu bisa saja karena suhu panas maka metabolism meningkat, karena pada saat suhu naik oksigen berkurang, mengakibatkan bukaan operculum ikan menjadi lebih sering. Itu artinya ikan tersebut lebih sering mengambil oksigen, karena saat suhu naik ikan tersebut kekurangan oksigen. Dan pada saat bukaan operculumnya semakin berkurang dari menit ke menitnya itu artinya suhu tubuh ikan tersebut sudah menyesuaikan dengan suhu lingkungan sekitarnya.
Pada percobaan kedua pada saat suhu dinaikan, ternyata bukaan operculum dari ikan ke 1-5 mengalami kenaikan yang signifikan. Sebagai contoh pada ikan pertama dengan suhu kamar saat menit pertama bukaan operculum sebanyak 166 kali, setelah suhunya dinaikan 3ºC bukaan operculum ikan tersebut naik menjadi 193 kali. Menurut hasil analisa kami bahwa hasil tersebut dikarenakan ikan mungkin stress, itu mungkin karena saat pengambilan ikan praktikan melakukannya dengan asal sehingga ikan menjadi stress. selain itu bisa saja karena suhu panas maka metabolism meningkat, karena pada saat suhu naik oksigen berkurang, mengakibatkan bukaan operculum ikan menjadi lebih sering. Itu artinya ikan tersebut lebih sering mengambil oksigen, karena saat suhu naik ikan tersebut kekurangan oksigen. Dan pada saat bukaan operculumnya semakin berkurang dari menit ke menitnya itu artinya suhu tubuh ikan tersebut sudah menyesuaikan dengan suhu lingkungan sekitarnya.
2. Pengaruh Perubahan Suhu Dingin Terhadap Membuka / Menutup Operculum Benih Ikan Mas
a. Pada suhu kamar 25ºC
Pada percobaan pertama berdasarkan hasil penelitian yang kami dapatkan pada suhu kamar bukaan operculum sangat bervariasi antara ikan 1-5, ada yang bukaan operculumnya semakin banyak dari menit ke menit, ada pula yang bukaan operculumnya semakin sedikit dari menit ke menitnya. Menurut kami itu mungkin dikarenakan perbedaan ukuran, umur, serta keadaan ikan tersebut pada saat diambil apakah dalam keadaan rilex atau mungkin stress, bisa juga dikarenakan ikan beradaptasi dengan lingkungannya (media air yang baru) sehingga menyebabkan bukaan operculumnya tidak stabil.
Pada percobaan pertama berdasarkan hasil penelitian yang kami dapatkan pada suhu kamar bukaan operculum sangat bervariasi antara ikan 1-5, ada yang bukaan operculumnya semakin banyak dari menit ke menit, ada pula yang bukaan operculumnya semakin sedikit dari menit ke menitnya. Menurut kami itu mungkin dikarenakan perbedaan ukuran, umur, serta keadaan ikan tersebut pada saat diambil apakah dalam keadaan rilex atau mungkin stress, bisa juga dikarenakan ikan beradaptasi dengan lingkungannya (media air yang baru) sehingga menyebabkan bukaan operculumnya tidak stabil.
b. Pada suhu 22 ºC
Pada percobaan kedua pada saat suhu diturunkan, ternyata bukaan operculum dari ikan ke 1-5 mengalami kenaikan yang signifikan. Sebagai contoh pada ikan pertama dengan suhu kamar saat menit pertama bukaan operculum sebanyak 173 kali, setelah suhunya diturunkan 3ºC bukaan operculum ikan tersebut naik menjadi 203 kali. Ini menunjukan bahwa hasil ini tedak sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Suharusnya juka suhu turun maka bukaan operculum haris lebih jarang/lebih sedikit atau dengan kata lain ikan lebih relexs dengan suhu yang lebih rendah karena ikan tersebut tidak terlalu kekurangan oksigen, serta metabolismenya pun harusnya stabil. Dan pada saat bukaan operculumnya semakin berkurang dari menit ke menitnya itu artinya suhu tubuh ikan tersebut sudah menyesuaikan dengan suhu lingkungan sekitarnya.
Pada percobaan kedua pada saat suhu diturunkan, ternyata bukaan operculum dari ikan ke 1-5 mengalami kenaikan yang signifikan. Sebagai contoh pada ikan pertama dengan suhu kamar saat menit pertama bukaan operculum sebanyak 173 kali, setelah suhunya diturunkan 3ºC bukaan operculum ikan tersebut naik menjadi 203 kali. Ini menunjukan bahwa hasil ini tedak sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Suharusnya juka suhu turun maka bukaan operculum haris lebih jarang/lebih sedikit atau dengan kata lain ikan lebih relexs dengan suhu yang lebih rendah karena ikan tersebut tidak terlalu kekurangan oksigen, serta metabolismenya pun harusnya stabil. Dan pada saat bukaan operculumnya semakin berkurang dari menit ke menitnya itu artinya suhu tubuh ikan tersebut sudah menyesuaikan dengan suhu lingkungan sekitarnya.
Menurut hasil analisa kami bahwa hasil tersebut dikarenakan ikan
mungkin stress, itu mungkin karena saat pengambilan ikan praktikan
melakukannya dengan asal sehingga ikan menjadi stress. selain itu bisa
saja karena suhu panas maka metabolism meningkat, karena pada saat suhu
naik oksigen berkurang, mengakibatkan bukaan operculum ikan menjadi
lebih sering. Itu artinya ikan tersebut lebih sering mengambil oksigen,
karena saat suhu naik ikan tersebut kekurangan oksigen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar